Archive for November, 2009

Pembalikan Medan Magnet Bumi

Jumat, November 6th, 2009

Fisikaasyik.com - Menyaksikan kedahsyatan bencana alam tanggal 26 Desember 2004 lalu, banyak orang mencari sebab terjadinya ketidakstabilan lempengan Bumi. Peringatan tentang kiamatnya dunia dan ilmuwan amatir percaya bahwa pembalikan medan magnet Bumi ada kaitannya dengan bencana ini.

Para ilmuwan telah mengamati perubahan arah magnet Bumi yang sekarang sedang terjadi sebagaimana telah terjadi di masa silam. Situs web NASA memuat peta tentang perubahan arah Utara dari masa 150 tahun yang lalu hingga kini. Karena telah begitu lama waktu sejak terakhir kalinya terjadi, banyak yang percaya kita berada di awal masa perubahannya. Bagaimanapun Bumi membutuhkan waktu paling sedikit 5000 tahun hingga 50 juta tahun. Sepertinya tidak tepat untuk berasumsi bahwa bencana ini disebabkan oleh perubahan arah medan magnet Bumi.

Tidak hanya arah, tetapi kekuatan dari medan magnet juga menjadi perhatian. Pada masa dinosaurus menguasai Bumi, kekuatannya 2,5 Gauss sekitar 80% lebih kuat daripada sekarang. Mungkin itulah kenapa ada kehidupan yang berukuran raksasa seperti dahulu. Teori tentang punahnya seluruh binatang raksasa oleh satu bencana besar telah banyak diterima tetapi ada yang aneh seperti punahnya mamalia berukuran besar seperti mammoth yang masih menjadi misteri.

Ukuran binatang yang lebh kecil sekarang mungkin sebagai akibat dari melemahnya medan magnet Bumi. Ribuan tahun yang lalu saat bangsa Cina dengan pengetahuannya tentang energi bio-elektrik dikenal sebagai “meridian”, menyebutkan medan magnet mempengaruhi bentuk kehidupan. Bangsa ini menggunakan batu-batu bermagnet untuk pengobatan. Dalam abad terakhir ada lebih banyak pengurangan kekuatan medan magnet Bumi hingga 5% sehingga sekarang cuma tinggal 0.5 Gauss. Hal ini telah membuat Dr. Dean Bonlie untuk menyebutkan “sindrom kekurangan magnet” untuk kasus stress biologis.

Melemahnya medan magnet Bumi dipercaya sebagai awal dari pembalikan arah medan magnet Bumi. Pada masa lalu kejadian ini telah dikonfirmasikan pada catatan geologi. Yang belum jelas adalah bagaimana kejadiannya dan apa yang terjadi pada kehidupan di permukaan Bumi saat itu.

Apakah medan magnet Bumi dapat melemah hingga 0 Gauss? Prediksi paling pesimis menyebutkan peralatan elektronik akan terkena resikonya : antara rusak atau tidak dapat digunakan sama sekali, seluruh satelit akan hilang termasuk stasiun angkasa. Efek bagi kehidupan biologis meliputi dari burung yang kehilangan arah migrasinya hingga penurunan sistim kekebalan tubuh dan tingginya kasus kanker.

Lebih parah lagi, atmosfir akan menipis dan turun sehingga membuat sindrom ketinggian di dekat permukaan laut bahkan pancaran sinar kosmis yang mematikan akan membunuh sebagian besar mahkluk hidup di permukaan Bumi. Hanya yang tinggal di gua-gua di dalam Bumi akan bertahan. Skenario ini telah membuat sejumlah orang membangun bunker bawah tanah dengan harapan untuk bertahan.

Melawan pandangan mengerikan ini, NASA meramalkan bahwa tidak menjadi 0 Gauss, tetapi medan magnet Bumi akan kacau. Saat itu kita akan memiliki lebih dari satu Kutub Utara dan satu Kutub Selatan. Laporan ilmiah resmi menyebutkan atmosfi tidak akan menghilang dan komunikasi hanya akan terganggu dan menjelang saat itu manusia akan menemukan cara untuk bertahan. Tetapi ada yang menentang, mengingat anomali magnet di Atlantik Selatan dan kerusakan akibat radiasi pada satelit yang beredar di daerah itu dikatakan sebagai akibat dari hilangnya atmosfir.

Teori ini didukung oleh bukti geologi bahwa saat pembalikan terakhir, atmosfir tidak hilang. Aliran lava dari Gunung Steen memperlihatkan kutub magnet berputar mengelilingi lingkaran tropis tiga kali. Meskipun kekuatannya berkurang hingga 20% tetapi tidak pernah menjadi 0 Gauss.

Teori bahwa aktivitas dari inti luar Bumi yang terbuat dari logam yang meleleh menyebabkan terjadinya medan magnet sedang hangat dibicarakan oleh ilmuwan. Aktivitas jauh di bawah inti Bumi dipercaya dapat menyebabkan pergerakan lempengan Bumi dan menyebabkan gempa.

Ada teori alternatif tentang terjadinya medan magnet Bumi. Ernest McFarlane dalam artikelnya “Asal muasal medan magnet Bumi” menyebutan sebuah sistem yang terbuat dari sel-sel elektronik di dalam inti logam yang mengkristal dengan titik-titik panas dari logam berat yang memancarkan partikel Alpha dan Beta. Karena suhu yang tinggi partikel Alpha tidak dapat menyatu dengan elektron bebas. “Akibatnya terjadi putaran dari dalam dan luar inti… medan magnet tercipta sebagai akibatnya”.

Teori mana yang benar? Mungkin kita sendiri yang akan mengalaminya.

Matahari mengubah medan magnetnya seperti putaran jam setiap 11 tahun di puncak siklus sunspot. Siklus terdekat diperkirakan terjadi tahun 2012. Sunspot (bintik Matahari) adalah magnet yang lebih kuat bahkan dari intinya yang secara terus menerus bergerak. Walaupun kejadian seperti ini tidak banyak dipahami, peneliti angkasa Ulyssess telah mengirimkan sejumlah data yang dapat menjawab banyak pertanyaan.

PES Network berusaha untuk menarik orang-orang di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data medan magnet. Sebuah situs web di PESWiki.com telah dibuat untuk kepentingan ini. Anda disarankan untuk membuat “garis dasar” dengan menentukan arah Utara akurat untuk lokasi Anda dan melaporkan derivasi dari arah dan derajat dari arah dasar tadi.

Seorang sukarelawan dari Kanada bagian Barat yang menggunakan kompas besar buatan sendiri menemukan variasi sebesar 10 derajat dalam beberapa hari. Karena heran sukarelawan ini meminjam kompas sensitif dan menemukan anomali ini memang terjadi.

Mata Burung Berkemampuan Lihat Magnet Bumi

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

Medan Magnet Bumi

Jumat, November 6th, 2009

Langitselatan.com - Apa yang terjadi apabila dua batang magnet yang kutubnya sejajar didekatkan? Tentunya akan salik tolak menolak, demikian juga dengan interaksi medan magnet Bumi dan Matahari. Medan magnetik Bumi dianggap sebagai pelindung Bumi terhadap angin Matahari, dan interaksinya bergantung pada orientasi kutub-kutub magnetik Bumi dan Matahari. Kedua medan magnetik Bumi dan Matahari mempunyai orientasi utara dan selatan. Arah kutub magnetik Bumi selalu menghadap pada arah utara-selatan. Demikian juga dengan Matahari, akan tetapi medan magnet Matahari secara periodis berubah orientasinya, kadang berkesejajaran (aligned) dengan medan magnet Bumi, kadang menjadi anti-sejajar (anti-algined).

Jika selama ini dipercaya bahwa medan magnet Bumi menjadi pelindung terhadap badai yang datang dari Matahari dan menghantam Bumi, karena kalau arah medan magnetnya saling berkesejajaran, tentunya yang terjadi adalah tolak menolak, sehingga perisai medan magnet sedang kuat-kuatnya, dan hanya sedikit partikel yang bisa masuk ke lingkungan Bumi, tetapi temuan terkini menunjukkan bahwa Bumi tidak sepenuhnya terlindung dari badai Matahari, karena adanya kebocoran pada medan magnet Bumi dan lebih banyak partikel yang masuk dan mengganggu lingkungan Bumi.

Sebelumnya, para ilmuwan Fisika Matahari mengetahui bahwa partikel-partikel Matahari memasuki magnetosfer Bumi ketika medan magnet Matahari mengarah ke selatan, yaitu ketika menjadi anti-sejajar dengan Bumi. Tetapi pengamatan terkini dari satelit-satelit THEMIS (Time History of Events and Macroscale Interactions during Substorms) menunjukkan bahwa yang terjadi tidaklah seperti itu.

Kebocoran ini jelas mengubah pandangan tentang bagaimana interaksi antara lapisan magnetsofer dengan angin matahari, karena dari kebocoran tersebut partikel-partikel yang datang dari angin Matahari datang lebih cepat dan lebih banyak dari yang selama ini diperkirakan dan seluruh interaksi bertentangan dengan yang selama ini telah dipelajari oleh para peneliti Matahari. Bila sebelumnya perisai medan magnet Bumi adalah pada saaat yang terkuat karena medan magnet saling tolak menolak, ternyata malah menjadi yang paling lemah.

Untuk melakukan pengukuran tersebut, maka ada lima wahana THEMIS yang dikirim untuk mengukur ketebalan pita partikel Matahari yang datang ketika medan magnet saling sejajar – ternyata ditemukan sampai mencapai 20 kali dari jumlah yang didapat ketika medan magnet saling anti-sejajar.

Pengukuran THEMIS dilakukan seiring wahana melalui pita, dengan dua wahana berada pada batas yang berbeda dari pita; dan ternyata pita yang ditemukan mencapai setebal radius Bumi (sekitar 6437 km). Pengukuran lanjutan menunjukkan juga bahwa pita tersebut juga membesar secara cepat.

Bagaimana kebocoran tersebut dapat dideteksi? Ketika partikel-partikel Matahari mengalir dibawa oleh angin Matahari, angin tersebut membawa juga medan magnet Matahari mengarah ke Bumi. Medan magnet yang dibawa tersebut melapisi medan magnet Bumi saat sampai. Kendati pada wilayah katulistiwa mengarah pada arah yang berkesejajaran, tetapi pada lintang yang lebih tinggi, arahnya menjadi saling anti-sejajar. Dan ketika gaya yang bekerja menekan kedua medan tersebut bersamaan maka terjadi saling mengkait antara kedua medan magnet (saling menempel sebagaimana dua magnet yang saling berbeda arah gaya), dalam sebuah proses yang disebut sebagai rekoneksi magnet. Proses tersebut mengakibatkan adanya sobekan pada uda lubang pada medan magent Bumi dan menambahkan wilayah yang memungkinkan partikel-partikel dari Matahari masuk ke magnetosfer.

Ketika siklus sebelumnya medan magnet Matahari yang menghantam bumi mulai dari anti-sejajar kemudian menjadi sejajar, maka pada siklus ini yang terjadi adalah sebaliknya, mulai dari ketika medan magnet Matahari anti-sejajar kemudian menjadi sejajar, yang berarti adanya amplifikasi pada bagaimana badai saat menghantam Bumi. Dengan demikian, maka efek yang terjadi pada siklus ke -24 mendatang menjadi lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan.

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

10 Ledakan Terbesar Di Dunia

Kamis, November 5th, 2009

Orang sedang mencari korban direruntuhan setelah ledakan di texas city, 1947

URUTAN 10 :

Sebuah kebakaran di kapal kargo SS Grandcamp yang sedang berlabuh di texas city pada 1947 memicu 2.300 ton amoniu nitrat, sebuah campuran yang digunakan untuk penyubur dan berdaya ledak tinggi. Ledakan tersebut merontokan 2 pesawat terbang yang sedang melintas disekitarnya dan memicu reaksi berantai yang memicu ledakan sebuah kapal kargo lainnya yang juga membawa 1000 ton ammonium nitrat. Bencana ini membunuh lebuh dari 600 orang dan melukai 3.500 lainnya, dan secara umum dikategorikan bancana industry terburuk dalam sejarah U.S

Urutan 9 :

Sebuah gambaran kerusakan “kecil” ketika sebuah kapal kargo prancis bermuatan bahan peledak meledak di pelabuhan Halifax, 1917

Sebuah gambaran kerusakan “kecil” ketika sebuah kapal kargo prancis bermuatan bahan peledak meledak di pelabuhan Halifax, 1917

Pada 1917, sebuah kapal kargo prancis, yang berisi penuh dengan bahan peledak untuk PD I, secara tidak sengaja bertabrakan dengan kapal berbendera belgia di pelabuhan Halifax, Kanada. Hal tersebut menyebabkan ledakan dengan dampak yang jauh lebih besar dari peladak yang pernah dibuat oleh manusia sebelumnya, setara dengan 3 kilo ton TNT. Menyebarkan serbuk berwarna putih hingga 6.100m diatas kota dan menyebabkan Tsunami dengan ketinggian gelombang setara 18 m , hingga radius 2 Km disekitar pusat ledakan. Itu adalah kehancuran total, dan merenggut 2000 nyawa dan 9000 lainnya terluka. Itu tetao menjadi kecelakaan terburuk didunia yang disebabkan peledak buatan manusia.

Urutan 8 :

Chernobly setelah ledakan, menunjukan kerusakan yang sangat massive di reactor utama (tengah) dan Turbin (kiri bawah).

Chernobly setelah ledakan, menunjukan kerusakan yang sangat massive di reactor utama (tengah) dan Turbin (kiri bawah).

Pada 1986, sebuah reactor nuklir meledak di Chernobly di ukraina, itu adalah kecelakaan nuklir terburuk dalam sejaran, ledakan tersebut melontarkan rector seberat 2000 ton dan menyebarkan 400 kali kadar radioaktive dibandingkan bom Hiroshima, mengkontaminasi lebih dari 200.000 km2 eropa, 600.000 orang terkena radiasi dosis tinggi, dan lebih dari 350.000 orang harus dievakuasi dari derah yang terkontaminasi.

Urutan 7 :

Satu-satunya Gambar berwarna yang tersedia untuk “ledakan” Trinity yang diambi oleh photographer amatir. Jack aeby

Satu-satunya Gambar berwarna yang tersedia untuk “ledakan” Trinity yang diambi oleh photographer amatir. Jack aeby

Bom atom yang pertama dalam sejarah, , di ledakkan di Trinity site, dekat Alamogordo, N.M pada 1945, meledakan denga kekuatan hamper 20kilo ton TNT, ilmuan J. Robert Oppenheimer kemudian mengatakan, ketika dia mengawasi pengujian, Ia memikirkan sebuah petikan dari manuscript hindu Bhagavas Gita : “Saya akan menjadi Kematian, penghancur dunia”, senjata nuklir kemudian mengakhiri PDII dan menyebabkan ketakutan terhadap senjata pemusnah nuklir hingga berpuluh tahun kemudian. Ilmuan kemudian menemukan bahwa masyarakan di New Meksiko mungkin terkena radiasi nuklir ribuan kali dari batas normal yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh.

Urutan 6 :

Ledakan Tunguska meratakan 2000 km2 hutan Siberia, gambar didapatkan dari expedisi Leonid Kulix pada 1927

Ledakan Tunguska meratakan 2000 km2 hutan Siberia, gambar didapatkan dari expedisi Leonid Kulix pada 1927

Sebuah ledakan misterius dekan sungai Podkamennaya Tunguska di 1908 meratakan area seluas 2000km2 dari hutan Siberia (hamper seluas kota Tokyo). Peneliti mengira bahwa ledakan tersebut disebankan oleh asteroid atau komet mungkin diameter sebesar 20m dan seberat 185.000 metric ton (7 kali berat titanic). Ledakan yang hasilkan hamper sekuat 4 mega ton TNT (250 kali lebih kuat dari bom Hiroshima)

Urutan 5 :

081020-volcano-02

Pada 1815, Gunung tambora di Indonesia meledak dengan kekuatan hamper 1000 mega ton TNT, merupakan ledakan gunung berapi terdahsyat yang direkam dalam sejarah. Ledakan tersebut melontarkan 140 Milyar ton magma dan tidak hanya membunuh 71.000 orang di pulau Sumbawa (Dekat Lombok) tapi abu vulkanik yang dilontarkan menyebabkan anomaly iklim secara global, pada tahun selanjutnya (1816), diknal sebagai tahun tanpa musim panas, salju turun di bulan juni di Albany N.Y, sungai es dapat ditemukan di bulan Juli di Pennsylvania, dan ratusan ribu orang menderita kelaparan secara global

Urutan 4 :

090517-dinosaur-asteroid-02

Era dinosaurs berakhir dalam bencana alam, hamper 65 juta thn lalu, yang membunuh hamper setengah dari semua species di planet ini, walaupun peneliti menyarankan bahwa planet berada dalam ambang kehacuran lingkungan sebelum tumbukan Cretaceous-Tertiary (meteorit), dimana kawah seluas 180 km di chixulub di mexiko mungkin adalah lokasi tumbukan tersebut.

ilustrasi tabrakan meteorit yang menyebabkan kepunahan dinosaurus.

Urutan 3 :

gambar rangkaian tabrakan komet Shoemaker-Levy dengan Planet Jupiter

gambar rangkaian tabrakan komet Shoemaker-Levy dengan Planet Jupiter.

Komet Shoemaker-Levy9 bertabrakan secara spektakuler dengan planet Jupiter pada 1994, gravitasi planet raksasa tersebut menarik komet tersebut dab memecahkan komet tersebut hingga area seluas 3km, dan mereka menghujam dengan kecepatan 60 km/detik menghasilkan 21 tumbukan yang terlihat. Tumbukan terbesar menyebabkan bola api hingga setinggi 3000 km diatas awan Jovian dan menyebabkan bintik hitam dengan diameter 12.000km2 (sekitar sebesar bumi) dan diperkirakan meledak dengan kekuatan 6000 Giga Ton TNT



Urutan 2 :

foto (warna bukan warna sebenarnya) ini diambil dengan observatory X-Ray Chandra, menunjukan emisi sinyal X-Ray dari ledakan SN 1006.

foto (warna bukan warna sebenarnya) ini diambil dengan observatory X-Ray Chandra, menunjukan emisi sinyal X-Ray dari ledakan SN 1006.

Supernova adalah bintang yang meledak yang seringkali “menyinari” keseluruhan galaksi. Supernova yang paling terang yang pernah di catat dalam sejarah adalah yang dilihat di konstelasi Lupus (bahasa laitn untuk srigala) pada musim semi tahun 1006. Ledakan luar biasa yang berwarna keemasan yang sekarang dikenal sebagai SN 1006  terjadi di hamper 7.100 tahun cahaya jauhnya, dan cukup terang untuk menyebabkan adanya bayangan dimalam hari, dan membaca dimalam hari, dan masih terlihat hingga berbulan-bulan pada siang hari


Urutan 1 :

Sinar inframerah yang meredup dari GRB 090423 muncul di pusat gambar (warna bukan warna objek sebenarnya) dengan menggunakan Gemini North Telescope di Hawaii. Pancaran tersebut merupakan pancaran terjauh ledakan kosmis namun tetap dapat dilihat dari bumi.

Sinar inframerah yang meredup dari GRB 090423 muncul di pusat gambar (warna bukan warna objek sebenarnya) dengan menggunakan Gemini North Telescope di Hawaii. Pancaran tersebut merupakan pancaran terjauh ledakan kosmis namun tetap dapat dilihat dari bumi.

Pancaran sinar gamma adalah paling kuat yang pernah diketahui di alam semesta. Sinar yang memancar dari area yang sangat jauh namun terlihat, adalah GRB 090423, menjangkau “dunia” kita dari kejauhan 13 Milyar tahun cahaya !!!! dari bumi. Ledakan tersebut, yang hanya terekam kurang dari 1 detik, melepaskan energy lebih dari 100 kali energy yang dilepaskan oleh matahari selama 10 Milyar tahun umur matahari tersebut. Ini sepertinya berasal dari sebuah bintang yang sekarat yang 30 hingga 100 kali besarnya dari matahari.

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

Camera chewing gum

Rabu, November 4th, 2009

spy-camera-shop.blogspot.com
Kembali sebuah camera dengan ukuran kecil. camera ini ukurannya seperti permen karet sangat kecil dan mudah dibawa kemana mana.

Product features:
• Super sensitive microphone can record in the range of 15 square meters area (suara tetap terekam jernih dalam area 15 meter persegi)
• Record video & photo in color (merekam gambar video dan photo berwarna)
• Connect to computer through USB port for viewing (langsung colok ke USB port di computer anda untuk menyaksikan hasil rekaman video & photo)
• No Driver/software needed (Gak perlu driver/software)
• AVI Video format 352*288
• Internal memory: 4GB
• Micro SD card/T-Flash card support:128MB to 2GB
• Built-in Lithium battery can record up to 2 hours (bisa ngerekam ampe 2 jam)
• Dimension:73mm*20mm*11mm
• Weight:18g
• Color: BLACK

Price: $100

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Sajak / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Yahoo, reddit, Blogmarks, Google, Magnolia.

Pemilu dan Integritas Saya

Selasa, November 3rd, 2009

Oleh : Franz Magnis-Suseno SJ
Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Orang-orang kita sudah lama pintar survive. Sudah lama hidup sehari-hari adalah keras. Bukan rasa kekeluargaan (yang selalu didengung-dengungkan Suharto dulu), melainkan hukum kompetisi tanpa ampunlah yang menguasai hampir seluruh wilayah jangkauan kita (barangkali kehidupan dalam keluarga yang masih bisa tidak diracuni oleh hukum keras itu). Orang yang bodoh atau naif akan tersingkir.

Maka orang-orang kita menjadi pandai menyesuaikan diri, pandai mencari kesempatan dalam kesempitan, pandai menemukan jalan pintas, pandai menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Mereka harus survive.

Akan tetapi di kedalaman hati orang kita tahu bahwa mutu kehidupan mereka menuntut bahwa mereka tidak membiarkan rusak suatu sikap paling mendalam: kejujuran. Barangkali bukan kejujuran sehari-hari. Tetapi mereka tahu, akhirnya nilai mereka tergantung dari apakah saya tetap jujur. Ada situasi di mana saya harus mengatakan yang benar, di mana saya harus setia juga kalau itu berat, di mana saya tidak akan bohong dan tidak akan menipu. Saya mau tetap menjadi orang yang dapat dipercayai.

Dalam bahasa modern orang bicara tentang integritas. Harkat kemanusiaan kita tergantung apakah kita berhasil menjaga integritas kita. Integritas berarti: Ada harga diri, ada rasa tanggung jawab, ada rasa keadilan yang tidak akan ditawar-tawar. Itu juga berarti: Aku tidak menjual diri. Tidak benar kata orang yang sinis bahwa “setiap orang mempunyai harganya”. Maksudnya, asal bayaran cukup, orang akan berbuat apa saja, bahkan menjual isterinya.

Kebanyakan orang kita tetap tahu apa itu integritas (kata itu belum tentu mereka tahu, tetapi mereka tahu apa yang dimaksud, yaitu sebuah kejujuran dasar). Mereka tahu bahwa mereka hanya dapat melihat dirinya sendiri secara terbuka apabila menjaga integritas mereka.

*

Apakah pada akhir pelbagai pemilihan umum di tahun mendatang kita akan dapat mengatakan bahwa kita mempertahankan integritas?

Demokrasi kita adalah hasil paling berharga revolusi tahun 1998. Kita bebas berbicara, bebas menyatakan pendapat, bebas memperjuangkan cita-cita dan tuntutan kita dalam masyarakat, dan bebas memilih siapa yang akan memimpin kita dan siapa yang akan mewakili kita. Itulah yang namanya demokrasi. Dunia luar – yang biasanya kritis terhadap Indonesia – begitu kagum dengan demokrasi kita. Negara nomor 4 besarnya di dunia (dan negara berpenduduk Muslim nomor 1 besarnya) kita ini.

Kita di dalam melihatnya lain. DPR kita di titik penghargaan masyarakat yang paling rendah. Kemungkinan bahwa seperempat dari mereka seharusnya berada di penjara adalah cukup tragis. Politisi yang seakan-akan hanya mau mengeruk fulus, yang sepertinya tidak tahu bahwa mereka maju untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat menggoncangkan keyakinan kita tentang demokrasi.

*

Dan tahun depan kita harus memilih. Apa yang harus kita lakukan, tanpa kehilangan integritas?

Yang pertama, kita tidak boleh putus asa dan tidak boleh generalisasi. Betul, DPR, apalagi banyak politisi di daerah, amat mengecewakan. Tetapi tidak semua demikian dan kegiatan mereka tidak tanpa hasil bagi kemaslahatan masyarakat. Integritas kita mulai dengan bersedia bahwa juga ada kebaikan dan tanggung jawab dan pengorbanan di kelas politik kita.

Dan itu berarti sekurang-kurangnya: kita tidak akan melepaskan demokrasi kita. Tak ada alternatif: demokrasi Indonesia harus kita sukseskan! Kita tidak dapat dengan jujur cuci tangan. Kita bertanggung jawab atas demokrasi kita.

*

Bagaimana kita bertanggung jawab? Yang pertama tentu, kita tidak mau dibeli oleh politisi. Tidak dibeli dengan diberi uang, tetapi juga tidak dibeli dengan secara malas dan tidak kritik percaya pada janji-janji dan iklan-iklan bagus mereka.

Orang kecil diberi duit oleh partai politik tentu akan menerimanya. Tetapi ia akan meliciki partai itu. Ia akan tetap memilih partai, dan calon presiden, yang diyakini sendiri. Tak masalah ia memakai kaus partai A, tetapi memilih partai B. Salah partai A sendiri kalau membagi-bagi kausnya.

Jadi kita tidak mau dibeli. Itu adalah garis dasar, bottom line, integritas kita. Saya tidak mau dibeli dan tidak akan dibeli. Saya tetap akan memberikan suara kepada yang saya yakini. Dan saya tetap dengan kritis melihat iklan-iklan, serta mendengar janji-janji para tokoh, capres, cawapres, orang-orang partai dengan kritis: Apa yang betul-betul telah Kau lakukan bagi rakyat, bagi saya? Apa isi keras nyata janji yang diberikan? Apa ada alasan apa pun bahwa mereka akan memenuhi janji di iklan atau TV spot itu?

Itu yang pertama. Yang kedua, saya akan ikut memilih. Dalam semua pemilihan. Pemilihan lokal, regional, dan nasional. Di bawah rezim Pak Harto golput – tidak memilih partai tertentu – adalah sikap terhormat karena merupakan satu-satunya cara untuk menyatakan ketidaksetujuan (waktu itu hanya ada tiga partai dan tiga-tiganya harus mendukung Pak Harto). Jadi golput di zaman Orde Baru menjadi pilihan yang sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan.

Tetapi tidak demikian di zaman demokrasi sungguh-sungguh. Di zaman kita di Indonesia sekarang. Sekarang kita betul-betul bebas. Tidak ikut memilih di pemilu, kecuali karena sakit atau ada alasan objektif lain, adalah sikap memalukan. Tidak mempunyai waktu atau perhatian atau selera untuk ikut prosedur pemilihan umum adalah memalukan. Sudah diberi kesempatan, sudah mampu untuk menyatakan apa yang dikehendaki, tetapi tidak melalukannya, karena malas, atau karena pesimis, atau karena emosi, itu bukan pilihan yang etis. Kalau kita cuek terhadap mekanisme demokrasi, kita jangan heran kalau akan mendapat penguasa yang tidak menyenangkan.

Sebagai warga sebuah demokrasi kita wajib ikut memilih. Kita mesti merasa bangga bahwa sekali setiap lima tahun harus menentukan waktu untuk ikut menentukan masa depan bangsa untuk lima tahun mendatang. Wajar kalau beberapa jam “hilang”, wajar kalau kita harus sedikit jalan kaki, wajib kalau ada sedikit kerepotan.

Tetapi barangkali semua partai dan semua kandidat presiden jelek. Barangkali iya. Tetapi kita jangan lupa. Dalam demokrasi kita tidak memilih yang terbaik, melainkan yang buruk, tetapi kurang buruk daripada yang lain-lain. Tidak memakai hak memilih adalah sama dengan memberi suara kita kepada mereka yang pasti tidak kita kehendaki.

Saya sendiri biasanya memilih menurut model eliminasi atau penyingkiran. Dari sekian partai yang dapat saya pilih, begitu pula dari para calon gupernur, presiden dan wakil presiden, dan sebagainya. saya singkirkan dulu partai atau orang yang pasti tidak saya inginkan, jadi yang bagi saya paling buruk atau paling berbahaya. Terhadap sisanya saya memakai cara yang sama. Akhirnya barangkali tinggal dua. Ya saya akan pilih yang tidak seburuk daripada yang satunya.

Integritas saya sebagai demokrat saya jaga dengan tidak mau dibeli dan dengan ikut aktif memberikan suara saya dalam pemilihan-pemilihan. Namun jelas juga: rakyat akan menjadi bosan dengan demokrasi kalau korupsi di DPR, di sistem yudisial berjalan terus. Mereka akan bertanya buat apa bajingan-bajingan korup, maling-maling berkantoran di Senayan, para pencuri uang rakyat itu harus saya bayar, saya hormati, saya percayai.

Pemilihan juga merupakan seruan kepada kelas politik. Mereka mesti malu kalau terus KPK masih menemukan lagi-lagi kasus penyuapan, kasus-kasus cari duit – padahal honor mereka adalah amat bagus. Kita dapat dan harus menuntut dari mereka bahwa mereka mengikat diri tidak untuk tidak melakukan korupsi dan untuk melaksanakan kewajiban mereka.

Integritas. Apakah bangsa Indonesia, baik rakyat maupun kelas politik, akan menjaganya di tahun 2009 yang begitu penting?[]

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Opini / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Yahoo, reddit, Blogmarks, Google, Magnolia.

Lahirnya Sosok Negarawan “Sejati”: Bukan Sekedar Mimpi

Selasa, November 3rd, 2009

Oleh : Teguh Prakoso
Dosen FKIP Universitas Terbuka Jakarta
Dalam beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia seolah dibiasakan dengan berbagai kesulitan ekonomi, baik karena pengaruh global maupun dampak krisis yang telah terjadi berkepanjangan. Naiknya harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya berimplikasi pada naiknya harga BBM, serta merta menyebabkan efek domino yang mengular mengiringi naiknya komoditas penting ini. Rasanya kita pun perlu menelisik kembali rentetan bencana maha dahsyat yang silih-berganti menerpa Indonesia. Bencana ini oleh berbagai kalangan dikomentari dengan sudut pandang pemikiran yang sangat heterogen. Sebagian menyatakan sebagai peristiwa alam, tetapi tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai semiotika yang harus dimaknai sebagai kemurkaan sang Penguasa Jagad atas sebagian perilaku masyarakat Indonesia yang tidak mengutamakan estetika hidup manusia yang semestinya menjunjung tinggi keselarasan dalam berolah pikir, berolah rasa, dan berolah jiwa.

Jika seluruh warga bangsa Indonesia mau berintrospeksi, bersedia melihat cerca yang pernah diperbuat, bersedia mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, tentu komentar yang saling menyalahkan yang sedang menjadi “tren” manakala musibah mendera, tentu tidak akan terjadi. Dapat dibayangkan seandainya setiap manusia mengetahui bagaimana semestinya mereka bersikap untuk menjaga keselarasan hidup, baik ketika berada di rumah sebagai anggota masyarakat, ketika di kantor sebagai pegawai yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, ketika di jalan sebagai komunitas jalan raya, maupun ketika berinteraksi dalam sebuah komunitas keluarga. Rasanya denyut kehidupan bermasyarakat akan berlangsung dengan penuh keharmonisan, saling tenggang rasa dan saling menghargai.

Yang kemudian menjadi pertanyaan pertama adalah mengapa orang gampang saling menyalahkan, mengapa orang selalu ingin menang sendiri, mengapa orang menjadi mudah tersinggung, dan mengapa pula sebuah komunitas tertentu memilih menyelesaikan masalah dengan aksi bakar atau tawur massal? Apakah bangsa Indonesia masih memiliki jati diri sebagai bangsa yang berbudaya sebagaimana cita-cita para pendiri Republik ini? Inilah pertanyaan yang sederhana, pertanyaan yang pendek, tetapi untuk menjawabnya tidak mungkin sesederhana dan sependek pertanyaannya.

Pemimpin adalah Teladan
Untuk menelusuri sikap yang lain, garis yang mudah ditarik untuk menghubungkan karakter sebagian warga bangsa Indonesia yang mulai aneh ini adalah bagaimana sikap kenegarawanan para pemimpin yang sedang atau pernah berkuasa. Tentu saja sikap yang dimaksud dalam konteks ini bukan sekadar patriotisme—karena notabene—mereka telah memilikinya. Sikap yang dituju adalah bagaimana perilaku mereka ketika tidak lagi berkuasa, atau malah tatkala mereka berkuasa.

Sentilan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Sindo, 16 Juli 2008, hlm.12) tentang hubungan personal para pemimpin Indonesia yang tidak harmonis dan tidak dapat meniru keteladanan M. Natsir adalah fakta yang benar adanya. Menurut Kalla, di Republik ini terdapat enam presiden, tetapi keenam presiden tersebut tidak ada yang saling ngomong. Bung Karno tidak bicara dengan Pak Harto (apalagi Pak Harto juga berusaha “menghitamkan” perjalanan hidup Bung Karno), Pak Harto tidak mau bicara dengan Habibie, Habibie tidak bicara dengan Gus Dur, Gus Dur tidak bicara dengan Mega, dan Ibu Mega tidak bicara dengan SBY. Inilah ironi karena mereka mestinya tidak demikian. Memang, sebagai manusia tentu wajar jika suatu ketika merasa ada ganjalan emosional karena adanya ketersinggungan atau kendala psikologis lainnya, tetapi mereka sepatutnya menyadari bahwa status negarawan sedang atau pernah disandang mereka.

Tanpa berusaha memberikan penilaian baik-buruknya karakter para negarawan Indonesia, sikap SBY yang senantiasa menyebut jasa para presiden sebelumnya adalah salah satu contoh keteladanan yang baik, meskipun mantan presiden yang disebut tidak pernah menggubris sikap yang elegan ini. Padahal, bangsa Indonesia sangat berharap, dalam setiap upacara peringatan detik-detik proklamasi, 17 Agustus misalnya, setiap mantan presiden duduk bersanding mengikuti jalannya upacara tersebut. Gus Dur memang pernah sekali menghadiri acara yang menunjukkan bagaimana kemerdekaan Indonesia harus ditempuh dengan kegigihan dan semangat kebangsaan yang sangat mendalam. Gus Dur pulalah yang pada hari Lebaran ini silaturahmi ke Presiden SBY.

Para pemimpin mungkin memang berbeda ideologis dan  berbeda pandangan, tetapi mestinya tidak secara pribadi karena mereka adalah teladan dan harus menjadi contoh. Memberikan kritik atau saran memang harus dilakukan, tetapi hendaknya tidak mengarah pada karakter individu, melainkan pada pemikiran atau pandangannya dan ini yang jarang terjadi di Indonesia. Sebaliknya, yang dikritik juga harus mampu memposisikan diri sebagai objek kritikan.

Yang menarik adalah jika kemudian muncul kebijakan pemerintah yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, maka mereka ini mencurigai sebagai kebijakan populis untuk kepentingan 2009. Apabila kecurigaan ini yang selalu dikedepankan, penulis berpandangan bahwa memang ada sesuatu yang kini mulai hilang dari jati diri sebagai bangsa yang berbudaya dan bermartabat karena tidak mengakui keberhasilan yang dicapai orang lain. Ada satu segi kehidupan masyarakat yang makin redup, dan bahkan hilang secara perlahan-lahan, yakni menjaga kesadaran bahwa manusia hidup di tengah pluralitas budaya yang tentu saja harus menghormati adanya perbedaan-perbedaan yang ada dan berpikiran, sekali lagi, bahwa jabatan yang pernah atau sedang disandang hanyalah sebuah titipan dari sang Khalik penguasa jagad raya ini.

Jabatan adalah Amanah
Memandang jabatan sebagai amanah mudah diucapkan dan enak untuk diikrarkan. Ketika seorang pejabat disumpah sesuai dengan agama dan keyakinannya, mereka menirukannya dengan lancar dengan menyebut nama sang penguasa alam, Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ketika jabatan yang diemban itu berjalan dan kemudian harus berakhir, sumpah jabatan yang telah diikrarkan terasa sulit untuk diingat. Padahal, seorang negarawan “sejati” hendaknya benar-benar memahami ini sebagai sebuah amanah sehingga ketika melaksanakannya harus selalu eling (ingat) bahwa suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Dengan demikian, ketika jabatan itu tidak lagi melekat dalam dirinya, sudah saatnya yang bersangkutan ikhlas melepaskannya dan berpikiran untuk terus memberikan sumbang saran yang konstruktif demi tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia.

Dalam membangun demokrasi, Indonesia meniru Barat yang memang telah menganutnya sejak lama, meskipun jumlah partai politik di Amerika misalnya, juga serupa dengan zaman Orde Baru. Yang masih perlu untuk diikuti adalah kedewasaan para negarawan Indonesia. Ketika Clinton tidak lagi menjadi Presiden Amerika Serikat, ia tetap berkiprah untuk bangsanya menjadi salah satu Duta PBB atas rekomendasi mantan pesaingnya. Atau, ketika Hillary Clinton memberikan selamat kepada lawan politik, yakni Obama ketika ia dipastikan memenangkan kandidat calon Presiden Amerika dari Partai Demokrat. Hal-hal semacam inilah yang mestinya diadopsi.

Meretas Lahirnya Negarawan “Sejati”
Negarawan “sejati” yang dimaksud dalam tulisan ini adalah negarawan yang paling tidak mampu mewadahi kepentingan lintas generasi dengan memahami betul keanekaragaman bangsa Indonesia serta memiliki semangat kebangsaan yang tidak diragukan lagi. Dalam kultur Jawa, satrio piningit—-sang ratu adil—yang diyakini bakal muncul sebenarnya bukan isapan jempol. Dalam sudut pandang strukturalisme Levi-Strauss, segala yang ada di dunia merupakan pengulangan-pengulangan dengan pola yang relatif tetap. Artinya, jika sekarang masyarakat hidup serba susah,  sementara bencana juga silih berganti, tentu suatu ketika akan lahir zaman baru karena mestinya bencana yang ada juga dimaknai sebagai pesan kewaspadaan sang pencipta. Agar dunia baru ini terwujud, munculnya calon negarawan “sejati” bukan hal sulit jika didukung oleh hal-hal sistem pemerintahan yang solid; pemikiran yang terbuka, kritis, dan cerdas; dan jiwa kepemimpinan yang kuat.

1. Sistem Pemerintahan yang Solid
Sistem perpolitikan yang sekarang berlaku di Indonesia, dalam satu sisi memang memiliki kelebihan, yakni lahirnya kebebasan masyarakat untuk menyampaikan gagasan atau pandangannya melalui saluran partai politik yang kini beragam. Jika di era Orde Baru, partai yang ada hanya tiga, dan yang dua lainnya juga hanya sebagai “boneka”, maka mulai 1999 patron ini berubah menjadi multipartai. Rakyat tidak lagi melihat para anggota dewan (DPR-RI) yang hanya terdiri atas bapak, ibu, dan anak layaknya sebelum zaman reformasi. Para gubernur/bupati/walikota dan presiden pun dipilih secara langsung yang kemunculan peluang untuk diplilih atas dasar rekomendasi dari partai politik dengan mengacu pada persyaratan tertentu. Sistem semacam ini tentu saja sangat elegan karena masing-masing kandidat dapat mengkampanyekan berbagai kebijakan yang akan dilakukan sesuai platform partai pengusungnya. Namun, menurut penulis, konsekuensi sistem ini berimbas pada kurang kokohnya pondasi pemerintahan yang sedang berkuasa. Kabinet SBY, juga Mega dan Gus Dur, diisi oleh para menteri dengan dua latar belakang, yakni memang ahli di bidangnya dan rekomendasi partai politik penopang pemerintah. Inilah yang mesti dicarikan bentuk kontrak politik yang jelas.

Sudah menjadi hal yang mahfum bahwa mereka yang berada dalam kategori kedua ini, meskipun sebenarnya banyak juga yang mumpuni (teladan), harus memiliki dua kaki. Akibatnya, ketika umur pemerintahan menjelang berakhir mereka tidak lagi berkonsentrasi menjalankan tugasnya sebagai menteri dengan baik. Tragedi menteri “menusuk dari belakang” dalam Kabinet Mega kemungkinan juga telah lahir “Kabinet SBY”.

Dalam sistem pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, munculnya gubernur atau bupati/walikota yang bukan berasal dari partai yang sama dengan pengusung pemerintah juga memperparah terwujudnya sistem pemerintahan yang solid. Tentu pembaca masih ingat bagaimana para bupati/walikota berani menolak kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Ini sungguh ironis. Atau, bagaimana beringasnya massa karena jagoannya kalah tipis dalam persaingan pemilihan kepala daerah. Mereka sangat brutal dan anarkis akibat ulah tidak sportif sang calon atau partai pengusungnya. Ikrar siap menag kalah sekadar isapan jempol belaka.

Jika ke depan Indonesia masih menganut sistem politik multipartai seperti sekarang, maka tradisi kerapuhan kabinet, atau “pembangkangan” para bupati/walikota menyikapi kebijakan pemerintah pusat, atau bakar-membakar akibat pilkada, dalam waktu-waktu mendatang akan kembali berulang. Oleh karena itu, munculnya wacana penyederhanaan multipartai selayaknya diapresiasi secara positif demi tegaknya Republik Indonesia yang diharapkan melahirkan negarawan “sejati” dengan dukungan sistem pemerintahan yang solid akan segera terwujud. Penyederhanaan tentu bukan lagi mengembalikan ke masa tripartai layaknya era Orde Baru.

2. Pemikiran yang Kritis, Terbuka, dan Cerdas
Selain memiliki wawasan kebangsaan yang baik, seorang calon negarawan “sejati” harus memiliki sikap yang kritis, terbuka, dan cerdas. Dalam konteks ini, seorang calon pemimpin bangsa mesti mau mendengar pendapat atau pandangan dari masyarakat, meskipun hal itu berseberangan. Agar hal ini berterima, tentu ia juga harus kritis dan cerdas dalam menaggapinya. Sungguh menyedihkan tatkala para petinggi Republik ini terjebak dalam budaya saling “meledek” melalui media massa. Sejatinya, setiap saran tentu harus disalurkan dengan cara yang santun dan jika ternyata ada masyarakat yang menyampaikannya dengan etika yang kurang pas, sudah seharusnya jika sang pemimpin ini tetap berkepala dingin dalam menanggapinya. Inilah hal yang sulit: bukankah presiden juga manusia?

Budaya komunikasi yang tidak menunjukkan tindakan terpuji ini pada akhirnya merembes pada para mantan pejabat lainnya. Terdapat indikasi bahwa mereka adakalanya tidak siap ketika harus melepas jabatan yang sejatinya adalah hanya “barang titipan”. Berbagai kritikan dilontarkan untuk “menyerang” kebijakan yang tengah dijalankan oleh pemerintah yang memiliki legitimasi kuat seolah-olah ketika pada saat berkuasa mereka memiliki kinerja yang cemerlang. Mereka berargumen bahwa di era terbuka ini pemerintah harus menanggapi kritik dengan lapang dada, bukan dengan merah telinga.

3. Jiwa Kepemimpinan yang “Kuat”
Sudah bukan menjadi hal yang awam jika masyarakat memiliki penilaian tersendiri pada enam orang presiden Republik Indonesia, mulai Soekarno sampai SBY. Keenam presiden ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing dengan tipikal kepemimpinan yang berbeda. Hal ini tidak aneh karena semangat zaman yang berkembang telah berubah. Terlepas dari keunggulan dan kekurangan masing-masing tokoh, seorang negarawan “sejati” hendaknya dibekali kepemimpinan yang kuat. Artinya, ada saat-saat ketika sebuah kebijakan harus diputuskan secara matang sehingga memerlukan pemikiran yang mendalam, tetapi ada pula kebijakan yang memang harus lahir dengan cepat, bahkan mungkin sedikit “keras”.

Meskipun naiknya BBM dapat dimaklumi karena siapapun Presiden Indonesia saat ini pasti akan dihadang tinggi harga minyak mentah dunia, kebijakan mengulur-ulur pengumuman naiknya harga BBM pada era SBY ini dipandang sebagai salah satu lemahnya pemerintahan SBY. Pada saat pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM sementara tanggal penentuannya masih abu-abu, masyarakatlah yang menjadi korban. Ketika ada pengumuman BBM naik, harga-harga kebutuhan pokok naik. Nah, ketika BBM benar-benar diumumkan naik, harga-harga naik lagi. Sungguh menyengsarakan.

Mudah-mudahan dalam masa yang akan datang, Indonesia memiliki seorang negarawan SEJATI yang akan mengantarkan Indonesia sebagai macan Asia gemah ripah loh jinawi. Semoga.[]

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Opini / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Yahoo, reddit, Blogmarks, Google, Magnolia.

Evolusi Demokratis Pengorganisasian Urusan Pemerintahan dan Lembaga-Lembaga Non-Kementerian

Selasa, November 3rd, 2009

Oleh : DR. Margarito Kamis

Dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate, dan Mantan Staf Khusus Menteri Sekertaris Negara
Pendahuluan
Kecuali frasa kesejahteraan dan keadilan, tidak diperoleh satu kalimat, seumum apapun dalam konstitusi-konstitusi modern yang memerinci urusan pemerintahan.  Apa saja yang menjadi urusan pemerintahan dan apakah semua urusan pemerintahan harus diorganisasikan? Bagaimana bentuk pengorganisasiannya? Apa kriterianya, baik dari dilihat dari segi konstitusi maupun manajemen pemerintahan? Apakah pengorganisasian urusan pemerintahan selalu harus diwujudkan dengan membentuk sejumlah departemen atau kementerian? Kapan urusan pemerintahan harus diorganisasikan, apa pertimbangannya dan bagaimana memilih bentuk organisasinya?

Jangkauan urusan pemerintahan tidak sepenuhnya dapat dikenali dengan, misalnya hanya bertumpu pada teks-teks UUD. Bukan karena teks-teks UUD selalu menggunakan bahasa yang sangat umum dan abstrak, yang memerlukan interpretasi, melainkan sejatinya, urusan pemerintahan bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Urusan pemerintahan, pada dirinya merupakan sesuatu hal yang bersifat elastis, berkembang terus, sekaligus dapat pula menyusut, seiring dengan kematangan negara tersebut.

Postur ideologis sebuah negara;  demokratis liberal atau sosialis, adalah akar lain yang menentukan postur urusan pemerintahan diorganisasikan. Membiarkan atau mengatur suatu masalah yang selalu dialami dan diperlukan oleh masyarakat, selalu memiliki akar dan merupakan konsekuensi ideologis. Membiarkan pasar bekerja sendiri sesuai dengan hukum pasar yang ada di dalamnya, atau sebaliknya mengatur pasar tersebut, tentu merupakan konsekuensi-konsekuensi idiologis. Perspektif ini, karena bernada filosofis, memiliki alur cerita yang melintas jauh dalam tradisi pemikiran hukum, ekonomi, dan politik Eropa modern.

Urusan Pemerintahan
Sejarah Eropa, betapapun banyak sisi-sisi positifnya, sebelum berubah menjadi modern adalah sebuah sejarah tentang betapa rakusnya kleptokrat, gemilangnya feodalisme dan luasnya despotisme. Kerajaan memiliki kewajiban konstitusional untuk mengurus kehidupan rakyat? Tidak. Tidak ada kewajiban konstitusional dari raja atau kerajaan. Negara adalah saya – D’tate et’s moi – itulah sebuah ungkapan sangat terkenal dari Louise ke-14 di Perancis. Di bagian, Mesir, Fir’aun mengatakan lebih dahsyat – Saya adalah Tuhan.

Tidak ada kehidupan privat maupun publik, kecuali setelah terbentuknya Negara Kota – city state Yunani Kuno, tetapi tidak di Romawi. Walaupun pada akhirnya, setelah abad 17, Romawi mencatat sejarah sebagai sebuah negara yang menandai awal mula berkembangnya hukum privat. Jauh sebelumnya, tidak ada warga negara. Yang ada adalah warga kerajaan. Warga kerajaan adalah milik kerajaan.  Teritori kerajaan adalah milik raja – imperium – yang mematrikan kuasa raja atas segala hal ihwal di dalamnya.  Tidak ada harta milik warga. Yang ada adalah harta kerajaan – dominium – yang, atas belas kasih raja, dapat dikelola oleh warga tertentu. Dominium adalah sumber keuangan kerajaan. Siapapun yang mengerjakan tanah kerajaan, dengan sendiri terposisikan sebagai sumber pendanaan penyelenggaraan urusan-urusan kerajaan, termasuk keperluan istana. Mereka yang mengerjakan tanah-tanah kerajaan, karena menjadi penyumbang dalam penyelenggaraan kerajaan termasuk istana, mereka sering dipanggil oleh kerajaan untuk membicarakan hal-hal yang direncanakan oleh kerajaan. Umumnya menyangkut pembiayaan kerajaan. Misalnya, biaya perang. Disebabkan pembicaraan ini berlangsung di tempat yang telah ditetapkan, dihadiri oleh mereka dan utusan kerajaan, maka disebutlah senatum – dewan.

Tidak banyak orang yang mengerjakan tanah-tanah milik kerajaan, dank arena tidak banyak pula orang yang hadir dalam senatum. Keuntungan sosial mereka dalam lingkungan sosial kerajaan adalah mereka, sebagaimana telah disebutkan di atas, dapat ikut duduk dalam senatum untuk membicarakan keperluan kerajaan. Umumnya mereka tinggal di enklave-enklave, layaknya kota di Batavia pada awal abad ke-17. Sebagaimana Batavia di abad ke-17, para tuan tanah – baron – ini diberi hak untuk memiliki budak. Budak, bukan manusia dalam arti seutuhnya. Mereka adalah barang yang dapat diperjualbelikan. Karena itu, mereka tidak memiliki hak – apa yang kini dikenal dengan hak politik misalnya – dalam lingkungan sosial kerajaan itu.

Pada masa ini tidak ada ruang, apalagi argumen untuk merumuskan urusan pemerintahan. Karena sesuai hakikatnya,  urusan pemerintahan tidak lain adalah usaha-usaha untuk menyejahterakan warga negara. Apa yang mau diurus? Bukankah semua warga di dalam kerajaan adalah barang, dan tidak punya hak, apapun namanya? Walaupun di Cina Kuno, di bawah kaisar Hsiao Hsuan yang memerintah dari tahun 74 sampai 48 SM. Pemerintahannya mencapai puncak kejayaan dalam pemerintahan dan peradaban Han. Pemerintahannya dikelola dengan sebaik-baiknya, ditujukan bagi kesejahteraan rakyat.
Memasuki abad ke-10, fenomena dominasi kerajaan di Eropa perlahan-lahan menuai perlawanan. Perang demi perang, mulai merebak pada tahun 970, dan terus menerus berlangsung hingga 1215. Perlahan-lahan muncul pemikiran untuk mereduksi kerajaan. Seiring dengan itu, terbenihlah gagasan yang menghendaki agar kerajaan mengakui adanya hak yang melekat pada para tuan tanah. Berabad-abad kemudian, gagasan direspons oleh kerajaan, tumbuh dan berkembang dengan bobot ideologis.

Setelah lama melintasi waktu, hak-hak individu menjadi simpul legitimasi utama munculnya konsep warga negara. Sebagai sebuah konsep civilization warga negara adalah konsep politik yang menandai bahwa warga satu teritori memiliki hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan urusan kerajaan. Perubahan dari budak menjadi warga negara, itulah simpul dan landasan utama munculnya konsep kesejahteraan rakyat. Berabad-abad kemudian, sekurang-kurangnya setelah Revolusi Inggris, Amerika dan Perancis,  kesejahteraan rakyat menjadi unsur utama atau pondasi konstitusional utama pembentukan konstitusi dan negara. Ringkasnya, pengakuan terhadap hak individu itulah yang menjadi simpul utama, atau elemen konstitusional utama lahirnya urusan pemerintahan.

Kesejahteraan rakyat yang telah menjadi pondasi konstitusional pembentukan konstitusi dan negara, betapapun mulianya hasrat itu, ternyata terartikulasi secara berbeda. Walaupun harus diakui bahwa perbedaan artikulasi, juga merupakan hasil tertinggi yang dicapai oleh bangsa dan negara yang bersangkutan dalam membaca konteks sosial, politik dan ekonomi mereka pada saat pembentukan negara dan konstitusinya.

Pilihan terhadap peran negara pada masa yang akan datang, menjadi akar sulitnya menentukan spektrum urusan pemerintahan. Negara minimal, atau negara penjaga malam, tentu berbeda dengan negara kesejahteraan. Mana di antara kutub logika tersebut yang dipilih, merupakan hasil kristalisasi terhadap perspektif-perspektif yang saling berpengaruh. Immanuel Kant, Filosof berkebangsaan Jerman, yang dikenal karena pemikirannya mengenai banyak hal, terutama negara misalnya, adalah salah satu ilmuan yang memandang remeh negara yang terlalu banyak mengurus.  Baginya,  cukuplah negara  menjamin dan memastikan bahwa warga negaranya aman dalam bernegara. Biarkan warga negara mengurus dirinya, dan kehidupannya sendiri.

Namun, mencatatkan saja Emmanuel Kant sebagai pesohor satu-satunya dalam khasanah pemikiran hukum, tidak hanya  mengabaikan sejarah, melainkan memandulkan usaha untuk menemukan simpul-simpul keragaman pemikiran mengenai negara. Hegel, seorang filosof, yang pikiran-pikirannya turut mempengaruhi gagasan-gagasan Supomo, salah seorang anggota PPKI pada saat membentuk UUD 1945, berpandangan lain dari Emmanuel Kant. Kalau Kant membiarkan warga negara mengurusi diri dan kehidupannya sendiri, maka Hegel justru menghendaki negara harus mengurus kehidupan masyarakat. Mana di antara kedua pemikiran yang mempengaruhi perkembangan bernegara di Jerman, faktanya adalah Jerman tumbuh menjadi negara kesejahteraan yang cukup sukses.

Ihwal membiarkan saja warga negara mengurus kehidupan mereka sendiri, dan negara hanya mengambil porsi menjamin keamanan – menciptakan tertib sosial – melalui hukum dan pranata sosial lainnya, dalam batas tertentu juga  merupakan sebuah fenomena khas Inggris pada periode-periode paling awal. Tampaknya hal ini disebabkan pragmatisme yang menjadi ciri dalam liberalisme Inggris. Satu hal yang sulit dihindari adalah kristalisasi fenomena sosial yang menandai Revolusi Inggris 1688 adalah bahwa revolusi itu dirangsang oleh satu hasrat agung – “menghentikan absolutisme raja”. Tidak ditemukan fenomena yang menandai adanya hasrat lain, misalnya tentang bagaimana seharusnya negara mengambil peran dalam mengurus kehidupan masyarakat.

Konstitusionalisme pragmatis itu, kalaupun tidak dapat ditandai sebagai faktor utama, harus diakui bahwa pragmatisme itulah akar dari evolusi pemerintahan dan  tumbuhnya urusan pemerintahan di Inggris sesudah Revolusi 1688. Kita harus mengatakan evolusi, bukan revolusi, karena sejarahnya pertumbuhan pemerintahan Inggris memang panjang. Diawali dengan perjuangan untuk melembagakan penghargaan terhadap hak individu pada tahun 1215 – kini ditandai sebagai awal pelembagaan gagasan hak asasi manusia – perlahan-lahan tumbuh, diwarnai dengan perjuangan merebut pengakuan terhadap eksistensi parlemen yang mencapai hasil minimal pada pertengahan awal ke-14, diikuti dengan pertumbuhan antagonistik pada tahun 1623-1654 – fase keributan hebat antara pihak yang pro-dominasi kerajaan, dan pihak yang hendak mereduksi dominasi kerajaan – hingga akhirnya atau mempercepat terjadinya revolusi pada tahun 1688. Walaupun revolusi 1688 hanya memiliki makna sebagai pengakhiran aboslutisme raja. Pembentukan organ sekaligus tata pemerintahan Inggris modern yang sesungguhnya baru terjadi pada abad ke-18.

John Locke harus diakui sebagai pemikir terdepan yang  berperan dalam menyebarkan gagasan konstitusionalisme, yang memicu terjadinya Revolusi Inggris. Gusar, sekaligus merindukan pengakuan terhadap eksistensi individu sebagai mahluk teragung yang diciptakan oleh Tuhan, sehingga mengantarkan dirinya di panggung pemikiran hak asasi manusia sebagai peletak dasar hak asasi manusia, bahkan ada yang menganggap dirinya sebagai bapak hak asasi manusia, sekaligus sebagai bapak pembagian kekuasaan, sama sekali tidak berbicara, apalagi berbicara secara spesifik mengenai  peranan negara. Satu-satunya elemen terpenting dalam gagasan pembagian kekuasaannya – distribution of power – adalah memastikan berakhirnya absolutisme. Pembagian kekuasaan hanyalah metode pemecahannya. Metode ini berbeda dengan pendahulunya, Thomas Hobes, karena di ujung teorinya, Hobes tetap menempatkan orang kuat untuk memastikan terciptanya tertib sosial, sebagai metode pencegahan terhadap potensi pertempuran antarsesama anggota masyarakat.

Perspektif-perspektif mereka, dalam kadar tertentu, mengilhami Adam Smith, ekonom ternama yang dikenal luas dengan teori The Whealt of Nation-nya. Ringkasnya, bertolak dari asumsi filosofisnya bahwa kebebasan individu adalah segala-galanya, maka Smith menolak campur tangan negara dalam kehidupan masyarakat, khususnya ekonomi. Baginya Smith pengakuan terhadap hak individu merupakan prasyarat kemajuan dalam bidang ekonomi. Kebebasan mendorong terjadinya persaingan. Persaingan akan melahirkan kemajuan. Karena itu biarkan saja manusia berkompetisi. Fenomena tersebut diyakini tidak akan berubah menjadi fenomena Thomas Hobes; saling menerkam. Sebab alam persaingan memiliki elannya sendiri. Elannya terletak pada kekuatan tersembunyi. Kekuatan inilah yang akan mengoreksi sendiri anomali-anomali yang terjadi dalam aktifitas itu. Karena itu negara tidak usah ikut-ikutan mengatur.
Teori Smith memang menuai banyak kritik, walaupun  bukan tanpa pendukung hingga saat ini. Terlepas dari kontroversinya, berkat pengakuan terhadap hak dan kebebasan individu, lahirlah masyarakat industri pada abad ke-19. Namun menarik, karena: (1) Roscou Pound, sosiolog yang amat terpelajar ini justru menandai masyarakat industri sebagai satu lingkungan sosial yang memerlukan peran negara untuk turut campur tangan dalam mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan. Negara tidak boleh membiarkan segala sesuatunya berjalan menurut hukum Smith; (2) Diferensialisasi masyarakat mengakibatkan tangan tersembunyi tidak dapat eksis sebagaimana dibayangkan Smith. Padahal tugas utama negara adalah menyejahterakan masyarakat. Pound akhirnya menandai abad ini, 19, juga sebagai abad munculnya negara kesejahteraan.

Pengorganisasian Urusan Pemerintahan
Tidak ada praktik yang mengagumkan dalam soal pengorganisasian urusan pemerintahan di masa lalu, yang dapat dijadikan rujukan, kecuali praktik di Amerika Serikat. Berawal pada akhir abad ke 19, atau segera setelah George Washington terpilih menjadi Presiden, terbentuklah sejumlah departemen. Departemen Keuangan, menandai urusan pemerintahan di bidang keuangan, Departemen Pertahanan yang terdiri atas Angkatan Laut dan Udara, mengurusi urusan pemerintahan di bidang pertahanan, udara dan laut. Kecuali Menteri Pertahanan, Kepala Staf Angkatan Laut dan Udara tidak menjadi anggota kabinet. Inilah kementerian yang terbentuk pada periode awal pemerintahan Amerika Serikat.

Perkembangan demi perkembangan kemasyarakatan yang berlangsung di kemudian hari, memerlukan respons pemerintah. Respons diberikan secara gradual. Uraian berikut ini menunjukkan bahwa respon pemerintah dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan kompleksitas dari masalah-masalah yang ditimbulkan. The Departemen of Justice  dibentuk pada tahun 1789. Dari tahun 1789 hingga tahun 1870, Jaksa agung menjadi anggota kabinet. Setelah tahun 1870, Jaksa Agung tidak lagi menjadi anggota kabinet. The Departemen of Treasury dibentuk tahun 1789. The Departemen of Interior (1849), The Departemen of Agriculture (1862), The Departemen of Commerce (1903) mengurus urusan perdagangan dan tenaga kerja, The Departemen of Labour (1913), The Departemen of Transportation (1913), The Departemen of Education (1979) mengurusi pendidikan termasuk kesejahteraan rakyat, The Departemen of  Energy (1977) The Departemen of Healt, Human Service, and Education (1953). Pada tahun 1979, urusan pendidikan dipecah dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat menjadi Departemen tersendiri. Terakhir adalah pembentukan The Departemen of Veterans Affair (1988).

Sekedar contoh, di dalam The Departemen of Commerce misalnya, yang berfungsi menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam mempromosi perdagangan nasional di tingkat internasional, pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Di departemen ini terdapat The National Bureau of Standart, The National Oceanic and Atmospheric Administration, termasuk The National Weather Service dan The Patent and Trade Mark Officed. Badan-badan ini merupakan bagian dari Departemen Perdagangan

Begitulah Amerika Serikat mengorganisir urusan-urusan pemerintahan. Satu hal yang terlihat jelas adalah rampingnya kementerian di Amerika Serikat. Pertanyaannya, apakah rampingnya kementerian merupakan indikator sederhananya urusan pemerintahan? Tidak. Sekurang-kurangnya terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan dengan matang. Pertama, sebelum menjadi Federasi 1787, Amerika berubah dari Konfederasi menjadi Federasi. Negara-negara telah menikmati kekuasaan pemerintahan, layaknya sebuah negara. Karena pengalaman inilah, maka peleburannya ke dalam federasi, dilakukan dengan syarat. Syaratnya adalah mempertahankan semua keistimewaan yang pernah dinikmati dalam konfederasi. Hasrat ini diperjuangkan mati-matian oleh kaum republik pada saat membentuk UUD. Usaha mereka berhasil. Lahirlah konstruksi konstitusional, yang menggariskan bahwa kecuali urusan luar negeri dalam arti luas, semua urusan pemerintahan harus habis diurusi di tingkat negara bagian. Pemerintah Federal cukup mengurusi urusan pemerintahan  yang tersisa, atau yang tidak diurusi oleh pemerintah negara bagian.

Kedua
, pertumbuhan pengorganisasian urusan pemerintahan yang diwujudkan dengan pembentukan kementerian, juga menandai bahwa dari waktu ke waktu, permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan bernegara, memerlukan penanganan yang lebih sistimatis, dan terencana. Ketiga, urusan pemerintahan bukan sesuatu yang bersifat statis. Akan terlihat pada uraian selanjutnya bahwa dari waktu ke waktu spektrum urusan pemerintahan semakin berkembang, dan direspons dengan cara yang berbeda. Mereka membentuk komisi – commission – atau badan – board – untuk menangani urusan-urusan tersebut.

Lahirlah apa yang dikenal dengan badan-badan pemerintahan – administrative agency – yang secara spesifik mengurusi urusan-urusan pemerintahan yang bersifat spesifik. Badan-badan pemerintahan – administrative agency – diberi nama – nomenklatur secara berbeda. Komisi, Badan, Agency atau Biro adalah nomenklatur dari lembaga-lembaga tersebut. Lembaga pemerintahan independen pertama adalah  Interstate Commerce Commission. Badan ini dibentuk pada tahun 1887, tiga tahun sebelum dikeluarkan The Shermant Antitrus Act 1890. Lahirnya Interstate Commerce Commission ini, menandai era baru peran negara. Dalam khasanah hukum konstitusi, tahun 1887 ditandai sebagai era awal terbentuknya administrartive state di dunia, menggantikan era negara jaga malam, versi paham liberal klasik.

Terilhami oleh pembentukan Komisi Perdagangan antarnegara bagian pada tahun 1887, di kemudian hari muncul badan serupa untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang berbeda. Berikut ini adalah badan dimaksud. The Federal Communication Comission, The Federal Reverse System,  The Federal Trade Commission,  The General Accounting Office, The General Service Administration, The National Aeroneutic and Space Administration, The National Foundation on the The Arts and The Humanities, The National Labour Relations Board, The National Science Foundation, Central Intellegence Agency, Federal Bureau Investigation, The Office of National Drugs Control Policy, The Securities and Exchange Commission, dan lain sebagainya.

Di antara sejumlah ciri yang melekat dan menjadi sifat  lembaga-lembaga pemerintahan di atas adalah kewenangannya. Sebagaimana kementerian, board, commission, agency dan bureau diberi kewenangan untuk membuat regulasi, melaksanakan dan menyelesaikan setiap sengketa atau persoalan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran atas rules yang dikeluarkannya oleh mereka. Kewenangan mereka diperoleh dengan didelegasikan oleh kongres melalui undang-undang.

Umumnya, pertimbangan yang digunakan oleh kongres dalam membentuk badan-badan di atas adalah, (i) menghindarkan penetrasi politik dalam pengelolaan urusan-urusan pemerintahan yang bersifat spesifik; (ii) karena urusan-urusan tersebut bersifat spesifik, maka harus diurusi oleh badan pemerintahan yang bersifat spesifik pula; (iii) urusan-urusan yang bersifat spesifik akan terabaikan kalau diserahkan kepada kementerian.

Kewenangan dari badan-badan ini diberi melalui undang-undang, dikenal dengan delegasi kewenangan. Konsekuensi konstitusional dari pendelegasian kewenangan tersebut adalah pembatasan terhadap kewenangan presiden, dalam tiga hal. Pertama, pengangkatan dan pemberhentian komisioner. Presiden tidak dapat mengangkat atau memberhentikan para komisioner, di luar prosedur yang ditentukan dalam UU. Karena kewenangan dalam bidang legislative power yang  didelegasikan oleh kongres, presiden atau kekuasaan apapun tidak dapat ikut mencampuri pengelolaan urusan pemerintahan yang ditangani oleh mereka. Kedua, badan-badan ini tidak berada di bawah presiden, dan tidak bertanggung jawab kepada presiden.

Ketiga, gabungan kedua konsekuensi di atas melahirkan konsekuensi ketiga, yaitu badan-badan ini adalah organ independen dalam tatanan ketatanegaraan. Tidak berada di bawah presiden, apalagi bertanggung jawab kepada Presiden. Karena sifatnya itu – independent – badan ini berwenang membuat aturan sendiri untuk melaksanakan urusan-urusan yang menjadi core-nya, melaksanakan dan menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang terjadi. Disitulah letak sifat dan kekuatan konstitusional badan ini. Hal itu tidak berarti bahwa tidak ada pertanggungjawaban dari badan ini. Namun prosedur pertanggungjawabannya dilakukan berdasarkan prosedur yang diatur dalam undang-undang pembentukannya.

Mengokohkan Sifat Konstitusional Lembaga Non- Kementerian
Berbeda dengan Amerika Serikat yang memerlukan waktu hampir satu abad untuk sampai pada kebutuhan membentuk badan administratif – administrative agency – sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat, badan pemerintahan non-kementerian telah tercipta pada usia berpemerintahan yang begitu singkat. Perdana Menteri  Juanda, pada masa pemerintahannya yang pertama – kabinet karya I – figur pertama pembentuk badan ini. Badan yang dimaksud adalah “Depernas.” Walaupun dibarengi dengan pertimbangan politik yang sangat kuat, ruh badan ini adalah memantapkan pelaksanaan pembangunan. Hakikatnya tidak lain dari pengoganisasian penyelenggaraan urusan pemerintahan untuk dilaksanakan secara terencana dan terprogram.

Apabila  pembentukan  kementerian atau departemen harus dipandang sepenuhnya sebagai perwujudan penyelenggaraan urusan pemerintahan secara organis, maka periode pemerintahan Presiden Soekarno adalah periode paling dramatis dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia. Segera setelah terbentuknya kabinet pertama tanggal 18 Februari 1960, yang terdiri atas 43 kementerian, pada akhirnya terus mengalami penambahan. Dari 43 berubah  menjadi 47 kementerian pada Kabinet Karya yang ketiga, tak termasuk lembaga-lembaga lain yang status pimpinannya disetarakan dengan menteri. Jumlah ini berkembang lagi menjadi 51 pada Kabinet Karya yang keempat, sebelum akhirnya berkembang lagi menjadi 61, di luar empat kementerian tanpa portofolio pada Kabinet Dwikora (1963-1964). Setelah disempurnakan pada tahun 1966, jumlah kementerian bertambah menjadi 82, di luar pejabat-pejabat yang berkedudukan setingkat Menteri. Kalau ditambah dengan mereka, maka jumlah keseluruhannya adalah 100 kementerian. Kementerian ini pun berubah lagi setelah Kabinet Dwikora yang telah disempurnakan itu, mengalami penyempurnaan untuk yang kedua kalinya.

Apakah besaran kabinet di atas menunjukan besaran dan luasnya jangkauan urusan pemerintahan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah? Sulit untuk memastikannya, walaupun tidak sulit untuk menilainya sebagai cara presiden merespon situasi politik yang hendak dikelolanya. Sebab kabinet tersebut mengalami penyederhanaan yang sangat fundamental segera setelah pemerintahan dipimpin oleh Jenderal Soeharto, dalam kapasitasnya sebagai pemegang Supersemar. Kabinet Soeharto, disebut Kabinet Ampera, hanya diisi dengan 29 Kementerian, dan menyusut menjadi 23. Jumlah ini tetap dipertahankan pada masa pemerintahannya sebagai presiden setelah Presiden Soekarno diberhentikan. Kabinetnya disebut kabinet Pembangunan I, dengan jumlah kementerian yang sama.

Kalau Presiden Soekarno menggunakan kompartemen untuk mengkategorisasi departemen, maka Presiden Soeharto menggunakan Kementerian portofolio dan non- portofolio. Kementerian non-portofolio disebut dengan kementerian negara. Pada Kabinet Pembangunan Tiga, muncul Kementerian Koordinator, yaitu Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan & Industri merangkap Ketua Bappenas, dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Era Presiden Soeharto juga diwarnai dengan adanya sejumlah badan, yang di Amerika Serikat disebut administrative agency – menandai melembaganya pemikiran tentang Administrative State di Indonesia. Badan-badan dimaksud, antara lain, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (KKBN),  Badan Koordinasi Penanam Modal, (BKPM), Badan Antariksa Nasional, (BAN), dan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Sesudah era pemerintahannya, atau dalam era pemerintahan Abdurrahman Wahid dan seterusnya bermunculan berbagai badan administratif. Dari namanya terdapat perbedaan dengan  lembaga-lembaga yang terbentuk pada masa pemerintahan Soeharto.

Komisi Hukum Nasional, Komisi Judisial, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Pemilihan Umum, adalah sedikit di antara sekian banyak komisi yang terbentuk setelah Pemerintahan Soeharto. Kecuali itu, dibentuk badan administratif baru. Misalnya, Intelijen Negara (BIN), dan  Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh (BRR), dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun berbeda dengan konstitusi Amerika dan Perancis misalnya, namun sama dengan konstitusi Philipines, Thailand, dan Afrika Selatan, Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Judisial disebutkan secara tegas dalam UUD 1945. Di luar itu tidak. Sebagian di antara yang tidak disebutkan dalam UUD, dibentuk berdasarkan UU, dan sebagiannya lagi dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden.

Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi begitu banyak badan administratif ini. Pilihannya adalah menata kembali badan-badan ini. Masalahnya adalah apa yang harus dijadikan spektrum penataannya. Bukan soal nama atau kategorisasinya, misalnya mengkategorisasi badan-badan tersebut menjadi Lembaga Pemerintahan non-Departemen (LPND) sebagaimana telah biasa digunakan selama ini. Apapun nama dan kategorinya; Badan, Komisi atau Lembaga, semuanya merupakan badan administratif dalam spektrum konstitusionalisme. Menurut saya yang harus dijadikan fokus perhatian dalam derap penataan adalah penegasan terhadap sifat konstitusional dan fungsinya.

Penutup
Munculnya negara kesejahteraan sejak abad ke-19, telah menjadi kecenderungan global pada satu abad terakhir. Semua negara bergerak ke arah ini. Mereka meninggalkan konstitusionalisme klasik yang cuma menjadikan negara sebagai penjamin ketertiban sosial. Silih bergantinya permasalahan kemanusiaan yang terus melilit bangsa-bangsa di dunia, ambil misalnya HIV Aids, lingkungan hidup,  kelangkaan energi, kemiskinan, dan lainnya, memaksa negara-negara di dunia untuk terus bergerak masuk ke dalam urusan kesejahteraan rakyat.

Kita memerlukan langkah penataan yang tepat, bukan karena jumlahnya yang terbilang banyak, melainkan karena dua hal. Pertama, badan atau lembaga itu, sering disebut LPND, atau dalam kajian hukum tata negara Amerika Serikat dan Inggris disebut auxelary organ, untuk dibedakan dengan main state organ, juga mengelola urusan pemerintahan. Hanya sifatnya spesifik. Kedua, karena menyelenggarakan urusan pemerintahan, maka sifat hukum kelembagaannya – organnya – harus diperkokoh. Undang-Undang Kementerian Negara yang telah disahkan beberapa waktu lalu, jelas memesankan sebuah langkah penataan yang perlu segera diambil. Walaupun tidak tegas, namun undang-undang tersebut, sekali lagi, secara intrinsik menegaskan fungsi lembaga-lembaga ini. Fungsinya adalah menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan yang tidak diurusi oleh kementerian, tetapi dipandang perlu untuk diurus oleh organ khusus. Di atas semua uraian yang telah dikemukakan, kehadiran UU Kementerian seolah menegaskan bahwa jalan telah terbentang luas untuk memulai langkah penataan; sekarang,  bukan nanti.[]

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Opini / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Yahoo, reddit, Blogmarks, Google, Magnolia.

Film: Cloudy With a Chance of Meatballs

Selasa, November 3rd, 2009

Film buatan Sony Pictures Animation ini adalah sebuah adaptasi kisah dongeng yang dibuat oleh Judi dan Ron Barrett’s pada tahun 1978. Apa jadinya kalau kita tinggal di sebuah pulau yang memiliki hujan makanan setiap harinya? Mulai merasa lapar saat membaca judul film kali ini? Tunggu sampai kamu menyaksikannya sendiri. Tetapi sebelum menontonnya sendiri, silahkan baca review film tersebut di sini.

Tokoh utama kita kali ini adalah seorang nerd (kutu buku) yang bernama Flint Lockwood (Bill Hader). Flint sangat mengidolakan penemu-penemu terkenal seperti, Philo Farnsworth, Nikola Tesla, Albert Einstein, James D. Watson dan masih banyak lagi. Sesuai dengan tokoh-tokoh yang diidolakannya, dari kecil Flint bercinta-cita untuk menjadi seorang penemu. Hal itu membuat Flint kecil menjadi jadi bahan tertawaan anak-anak seumurannya, untunglah ibu Flint (Lauren Graham) menyemangati Flint untuk terus berjuang mengejar cita-citanya. Hari demi hari berlalu, Flint tetap berusaha menciptakan berbagai penemuan yang kebanyakan berakhir dengan bencana. Biasanya setiap musibah yang ditimbulkan oleh penemuan-penemuan Flint akan menimpa ayahnya, Tim Lockwood (James Caan).

Suatu hari, Flint berhasil menciptakan sebuah mesin yang mampu memproduksi makanan dari air. Tentunya penemuan tersebut sangat membanggakan bagi Flint, apalagi pulau tempat Flint tinggal yang bernama Swallow Falls sedang dirundung krisis pangan berkepanjangan. Krisis tersebut dimulai saat dunia internasional bosan dengan ikan sarden yang berbau amis dan menyengat, padahal ikan sarden kalengan merupakan produk utama Swallow Falls, sehingga produksi sarden dari Swallow Falls tidak diserap pasar. Untuk menyiasati kondisi tersebut, para penduduk Swallow Falls hidup dengan hanya mengkonsumsi ikan sarden.

Mesin Flint gagal beroperasi karena kurangnya suplai listrik. Di saat yang bersamaan Swallow Falls sedang menghadapi hari yang sangat penting. Mayor Shelbourne (Bruce Campbell) hendak membuka wahana permainan yang bernama Sardine Land. Teman masa kecil Flint yang bernama Brent (Andy Samberg) akan meresmikan wahana tersebut. Berkebalikan dengan Flint, Brent adalah seorang begundal yang menjadi ikon pabrik sarden di Swallow Falls. Kehidupan sosial Brent jauh lebih baik ketimbang Flint. Brent selalu didampingi dua orang wanita yang mengikuti kemanapun Brent pergi, dan kali ini Brent berkunjung ke toko tempat Flint bekerja.

Saat berada di toko Bert mengerjai Flint dengan menjatuhkan kotak sarden yang baru saja disusun. Untunglah momen pembukaan Sardine Land semakin dekat sehingga Bert harus keluar dari toko. Tim juga ingin melihat acara pembukaan tetapi dia tidak meninggalkan tokonya begitu saja. Melihat hal tersebut Flint menyuruh ayahnya untuk pergi ke acara pembukaan Sardine Land dan membiarkan tokonya dijaga oleh dirinya. Akhirnya ayah Flint menyetujui rencana tersebut dan pergi meninggalkan toko. Flint sebenarnya mengincar momen pembukaan tersebut untuk mendapatkan listrik bagi mesin ciptaannya.

Saat kondisi sudah aman, Flint buru-buru berlari kembali ke laboratorium buatannya dan mengambil mesin ciptaannya. Di tengah perjalanan menuju gardu listrik Flint dicegat Earl Devereaux (MR. T), satu-satunya polisi di Swallow Falls. Earl mengawasi semua gerak-gerik Flint, apalagi momen peresmian tersebut amatlah penting dan Earl tahu kalau Flint sering mengacau dengan segala penemuannya. Flint mengelabuhi Earl sehingga berhasil mencapai gardu listrik, tanpa pikir panjang Flint menghubungkan kabel listrik gardu listrik dengan mesin ciptaannya. Di saat yang bersamaan Sam Sparks (Anna Faris) melakukan debut pertamanya sebagai penyiar cuaca kota Swallow Falls untuk televisi nasional Amerika.

Benar saja, mesin Flint mengamuk mengacaukan prosesi peresmian Sardine Land dan terbang ke langit. Meninggalkan Flint terkurung sendirian di dalam akuarium dan dimusuhi seluruh kota. Flint akhirnya memutuskan menyendiri di pinggiran dermaga dan Sam yang merasa karirnya dikacaukan oleh orang gila juga melakukan hal yang sama. Sam yang berhasil mengetahui kalau Flint adalah orang yang bertanggung jawab atas bencana yang menimpanya memarahi Flint habis-habisan. Saat Sam memarahi Flint, Flint menyadari ada yang aneh pada awan hujan yang ada di depan merka. Awan tersebut menjatuhkan keju pada awalnya dan kemudian menjatuhkan burger ke seluruh pulau. Apa yang akan terjadi berikutnya? Penasaran? Kami punya reviewnya untuk kamu.

Cloudy with a Chance of Meatballs memiliki grafis yang sangat apik. Tidak terlalu kartun tetapi tidak terlalu manusia sehingga bisa dibilang berada di tengah-tengah. Cerita Cloudy with a Chance of Meatballs disajikan dengan sangat apik dan rapat, kita tidak bisa berleha-leha barang sejenak bila ingin mengikuti keseluruhan cerita. Untunglah film animasi memiliki genre komedi sehingga mengikutinya terus-menerus sepanjang 90 menit bukanlah sebuah masalah besar.

Film ini memiliki kedalaman cerita yang cukup baik. Masalah justru datang dari para karakternya yang tidak tergali dan dikembangkan dengan baik. Kita hanya tahu kalau Flint adalah seorang penemu yang memiliki seorang ayah dan ibu, sebenarnya masih banyak aspek lainnya yang belum tergali. Sebagai contoh, karakter Bert yang sedikit sekali disinggung di dalam film. Padahal kami sebenarnya ingin melihat Bert kecil yang membully Flint kecil. Tentunya kami tidak bermaksud mengajarkan cara membully pada anak-anak yang menonton film Cloudy with a Chance of Meatballs, tetapi jadinya seperti ada yang kurang.

Para pengisi suara dalam film Cloudy with a Chance of Meatballs bisa menghidupkan karakter yang mereka bawakan. Bahkan kami sempat terkecoh oleh karakter Earl Devereaux yang suaranya diisikan oleh Mr. T. Entah mengapa kami seperti tidak bisa mengenali logat Mr. T yang biasanya kami saksikan di televisi. Rasanya tidak ada keluhan apapun untuk para pengisi suara, mereka sudah memberikan nyawa pada karakter yang mereka isikan suaranya.

Cloudy with a Chance of Meatballs memiliki banyak pesan moral yang disuguhkan dengan cara yang sangat asyik sehingga kita tidak akan sadar akan keberadaan pesan moral tersebut. Pada beberapa adegan diperlihatkan kalau Flint sangat suka berkhayal dan memiliki kreativitas yang tinggi, ini adalah salah satu bocoran tentang pesan moral yang ingin disampaikan di dalam film. Pada intinya sih kamu harus memiliki banyak impian dan imajinasi untuk menggapai cita-citamu. Bagaimana, ingin tahu pesan moral lainnya? Tonton filmnya kalau sudah keluar di bioskop.

Cloudy with a Chance of Meatballs juga memiliki banyak adegan komedi yang sanggup mengocok perutmu, bahkan di menit-menit awal kita sudah disuguhi beberapa kelakuan konyol Flint Lockwood bersama monyet kesayangannya. Flint yang terbiasa berpikir sistemasti digambarkan dengan potongan-potongan adehan yang berisikan setiap kegiatan yang dilakukannya. Terkadang ada adegan konyol yang diselipkan di antara potongan-potongan kegiatan Flint, sehingga memancing tawa dan senyuman.

Cloudy with a Chance of Meatballs adalah sebuah film keluarga yang sangat layak untuk ditonton. Tidak ada adegan kekerasan di dalamnya sehingga kamu tidak perlu khawatir ketika mengajak nonton keponakan, adik atau adik gebetanmu menonton film Cloudy with a Chance of Meatballs. Kalau kamu masih kecil, silahkan ajak ayah dan ibumu untuk menonton film ini. Bilang pada mereka kalau film ini memiliki pesan moral untuk mereka dan dirimu, kami pastikan kamu pasti akan diajak menonton film ini. Jadi kesimpulannya adalah film ini bisa dan wajib ditonton oleh semua orang. Silahkan tunggu kedatangan film ini di bioskop-bioskop kesayangamu dan selamat menonton, kami pamit dulu ^_^.

Oh iya, hampir lupa. Dari tanggal 9 sampai 18 Oktober 2009 Mall Kelapa Gading menyuguhkan acara yang berhubungan dengan film Cloudy With a Chance of Meatballs. Acara yang bertajuk “Prepare to Get Serve” memiliki banyak rangkaian acara yang sangat menarik untuk diikuti bersama keluarga. Ada lomba menggambar, talk show, operet dan I’m an Inventor Competition. Pokoknya enggak ada ruginya deh nonton Cloudy With a Chance of Meatballs di Mall Kelapa Gading.

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Film / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Yahoo, reddit, Blogmarks, Google, Magnolia.

Ary Siap Beberkan Fakta ke TPF Tak Pernah Bertemu Pimpinan KPK

Selasa, November 3rd, 2009

Selasa, 3 November 2009 | 07:07 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ary Muladi memastikan bahwa hingga kini dirinya tak pernah sekali pun bertemu dengan pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi, termasuk Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Ary juga siap dimintai keterangan oleh tim pencari fakta independen.

Pengakuan tersebut disampaikan Ary Muladi kepada Kompas, didampingi pengacaranya, Sugeng Teguh Santosa, Senin (2/11) di Jakarta.

”Saya tidak pernah sekali pun bertemu dengan Chandra, Bibit, Jasin, Ade Rahardja, dan Bambang Widaryatmo. Uang dari Anggodo yang diberikan kepada saya tak pernah saya berikan kepada mereka. Saya enggak tahu siapa-siapa di KPK,” kata Ary.

Anggodo merupakan adik dari Anggoro Widjojo, Direktur Utama PT Masaro. Anggodo memberikan uang kepada Ary untuk diteruskan kepada pimpinan KPK. Namun, uang tersebut pada akhirnya diserahkan kepada kenalannya, seorang pengusaha asal Surabaya bernama Yulianto.

Sebelumnya, dalam pemeriksaan pertama kali sebagai saksi untuk kasus Chandra dan Bibit pada 11 Juli 2009, Ary mengaku memberikan langsung uang itu kepada Chandra dan Bibit. Keterangan itu lalu dituangkan dalam dokumen kronologis 15 Juli 2009. Kemudian, pada 14 Agustus 2009, polisi menangkapnya atas tuduhan pidana penipuan dan penggelapan.

Menurut Ary, setelah ditangkap dan diperiksa kembali oleh polisi pada 18 Agustus 2009, dirinya mengakui bahwa keterangannya soal pemberian uang kepada Chandra dan Bibit adalah bohong belaka. Ary mengatakan, nuraninya akhirnya memutuskan dirinya untuk mengakui semuanya kepada polisi.

”Saat itu saya berpikir, sampai kapan saya harus bohong terus? Apa jadinya kalau saya dipertemukan dengan mereka (pimpinan KPK) yang tidak pernah saya temui? Karena itu, saya putuskan mengakui yang sebenarnya kepada polisi,” kata Ary.

Dalam pemeriksaan polisi, Ary juga mengaku Yulianto sempat memberinya kembali uang (30.000 dollar AS) yang lalu dimasukkannya ke rekeningnya di Bank Mandiri dan BCA. Ary mengaku tidak tahu apakah Yulianto benar-benar memberikan uang dari Anggodo kepada Chandra dan Bibit.

Menurut Ary, Yulianto dikenalnya antara tahun 1999 dan 2000 di Surabaya. Yulianto kerap mengaku sebagai orang yang dekat dengan kalangan penegak hukum. Berdasarkan reka ulang polisi terkait pertemuannya dengan Yulianto, polisi telah menemukan jejak Yulianto di Hotel Crowne, Gatot Subroto, Jakarta.

Menurut Ary, dia juga pernah menemui Yulianto, di antaranya di Kafe Victoria di Plaza Senayan dan Mal Pondok Indah, Bellagio Kuningan, Pasar Festival Kuningan, dan Restoran Warung Daun di Jalan Wolter Monginsidi.

Permintaan dari Anggodo

Ary mengatakan, awal keterlibatannya dalam persoalan ini adalah ketika Anggodo menghubunginya saat Kantor Masaro digeledah KPK pada tanggal 29 Juli 2008. Anggodo meneleponnya melalui nomor telepon Rebert, anak Anggodo.

Ketika itu, Ary tengah berada di Bali. Anggodo meminta bantuan Ary apakah ada kenalan di KPK yang bisa membantu. Ary menyanggupi dan langsung menelepon Yulianto, di luar pengetahuan Anggodo.

”Saya teringat Yulianto karena selama ini dia klaim dekat dengan kalangan penegak hukum,” ujar Ary.

Sugeng Teguh Santosa memastikan kliennya, Ary Muladi, siap diperiksa tim pencari fakta (TPF) independen. Sugeng juga akan memohonkan perlindungan saksi bagi Ary ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Ary hingga kini berstatus sebagai saksi dalam perkara yang menjerat Chandra dan Bibit.

Sementara itu, ketika melaporkan soal penyadapan ke Mabes Polri, Jumat (30/10), Anggodo membantah soal kronologis terbaru versi Ary. Anggodo sempat berujar dia merasa dipermainkan.

”Saya yang merasa dikerjai. Ya memang dia (Ary) mau bohong, wong sudah tanda tangan kronologis dan kronologis itu bukan kronologis saya bikin. Saya bikin saya punya kronologis dan dia (Ary) membikin kronologis dia. Ya, kalau dia enggak mau buka, tunggu saja dia. Nyata itu,” tutur Anggodo.

Ditanya apakah dirinya merasa diperas atau justru berusaha menyuap pimpinan KPK, Anggodo hanya berujar no comment.

Pengacara Anggodo, Bonaran Situmeang, pada hari yang sama juga tidak dapat menjelaskan apa upaya pemerasan yang dirasakan kliennya. Bonaran berkilah ada permintaan ”atensi” (uang) dari pihak pimpinan KPK kepada kliennya yang disampaikan melalui Ary. (sf)

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

Top of page