Pemilu dan Integritas Saya

November 3, 2009 at 5:11 PM , by De Andiwinata

Oleh : Franz Magnis-Suseno SJ
Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Orang-orang kita sudah lama pintar survive. Sudah lama hidup sehari-hari adalah keras. Bukan rasa kekeluargaan (yang selalu didengung-dengungkan Suharto dulu), melainkan hukum kompetisi tanpa ampunlah yang menguasai hampir seluruh wilayah jangkauan kita (barangkali kehidupan dalam keluarga yang masih bisa tidak diracuni oleh hukum keras itu). Orang yang bodoh atau naif akan tersingkir.

Maka orang-orang kita menjadi pandai menyesuaikan diri, pandai mencari kesempatan dalam kesempitan, pandai menemukan jalan pintas, pandai menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Mereka harus survive.

Akan tetapi di kedalaman hati orang kita tahu bahwa mutu kehidupan mereka menuntut bahwa mereka tidak membiarkan rusak suatu sikap paling mendalam: kejujuran. Barangkali bukan kejujuran sehari-hari. Tetapi mereka tahu, akhirnya nilai mereka tergantung dari apakah saya tetap jujur. Ada situasi di mana saya harus mengatakan yang benar, di mana saya harus setia juga kalau itu berat, di mana saya tidak akan bohong dan tidak akan menipu. Saya mau tetap menjadi orang yang dapat dipercayai.

Dalam bahasa modern orang bicara tentang integritas. Harkat kemanusiaan kita tergantung apakah kita berhasil menjaga integritas kita. Integritas berarti: Ada harga diri, ada rasa tanggung jawab, ada rasa keadilan yang tidak akan ditawar-tawar. Itu juga berarti: Aku tidak menjual diri. Tidak benar kata orang yang sinis bahwa “setiap orang mempunyai harganya”. Maksudnya, asal bayaran cukup, orang akan berbuat apa saja, bahkan menjual isterinya.

Kebanyakan orang kita tetap tahu apa itu integritas (kata itu belum tentu mereka tahu, tetapi mereka tahu apa yang dimaksud, yaitu sebuah kejujuran dasar). Mereka tahu bahwa mereka hanya dapat melihat dirinya sendiri secara terbuka apabila menjaga integritas mereka.

*

Apakah pada akhir pelbagai pemilihan umum di tahun mendatang kita akan dapat mengatakan bahwa kita mempertahankan integritas?

Demokrasi kita adalah hasil paling berharga revolusi tahun 1998. Kita bebas berbicara, bebas menyatakan pendapat, bebas memperjuangkan cita-cita dan tuntutan kita dalam masyarakat, dan bebas memilih siapa yang akan memimpin kita dan siapa yang akan mewakili kita. Itulah yang namanya demokrasi. Dunia luar – yang biasanya kritis terhadap Indonesia – begitu kagum dengan demokrasi kita. Negara nomor 4 besarnya di dunia (dan negara berpenduduk Muslim nomor 1 besarnya) kita ini.

Kita di dalam melihatnya lain. DPR kita di titik penghargaan masyarakat yang paling rendah. Kemungkinan bahwa seperempat dari mereka seharusnya berada di penjara adalah cukup tragis. Politisi yang seakan-akan hanya mau mengeruk fulus, yang sepertinya tidak tahu bahwa mereka maju untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat menggoncangkan keyakinan kita tentang demokrasi.

*

Dan tahun depan kita harus memilih. Apa yang harus kita lakukan, tanpa kehilangan integritas?

Yang pertama, kita tidak boleh putus asa dan tidak boleh generalisasi. Betul, DPR, apalagi banyak politisi di daerah, amat mengecewakan. Tetapi tidak semua demikian dan kegiatan mereka tidak tanpa hasil bagi kemaslahatan masyarakat. Integritas kita mulai dengan bersedia bahwa juga ada kebaikan dan tanggung jawab dan pengorbanan di kelas politik kita.

Dan itu berarti sekurang-kurangnya: kita tidak akan melepaskan demokrasi kita. Tak ada alternatif: demokrasi Indonesia harus kita sukseskan! Kita tidak dapat dengan jujur cuci tangan. Kita bertanggung jawab atas demokrasi kita.

*

Bagaimana kita bertanggung jawab? Yang pertama tentu, kita tidak mau dibeli oleh politisi. Tidak dibeli dengan diberi uang, tetapi juga tidak dibeli dengan secara malas dan tidak kritik percaya pada janji-janji dan iklan-iklan bagus mereka.

Orang kecil diberi duit oleh partai politik tentu akan menerimanya. Tetapi ia akan meliciki partai itu. Ia akan tetap memilih partai, dan calon presiden, yang diyakini sendiri. Tak masalah ia memakai kaus partai A, tetapi memilih partai B. Salah partai A sendiri kalau membagi-bagi kausnya.

Jadi kita tidak mau dibeli. Itu adalah garis dasar, bottom line, integritas kita. Saya tidak mau dibeli dan tidak akan dibeli. Saya tetap akan memberikan suara kepada yang saya yakini. Dan saya tetap dengan kritis melihat iklan-iklan, serta mendengar janji-janji para tokoh, capres, cawapres, orang-orang partai dengan kritis: Apa yang betul-betul telah Kau lakukan bagi rakyat, bagi saya? Apa isi keras nyata janji yang diberikan? Apa ada alasan apa pun bahwa mereka akan memenuhi janji di iklan atau TV spot itu?

Itu yang pertama. Yang kedua, saya akan ikut memilih. Dalam semua pemilihan. Pemilihan lokal, regional, dan nasional. Di bawah rezim Pak Harto golput – tidak memilih partai tertentu – adalah sikap terhormat karena merupakan satu-satunya cara untuk menyatakan ketidaksetujuan (waktu itu hanya ada tiga partai dan tiga-tiganya harus mendukung Pak Harto). Jadi golput di zaman Orde Baru menjadi pilihan yang sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan.

Tetapi tidak demikian di zaman demokrasi sungguh-sungguh. Di zaman kita di Indonesia sekarang. Sekarang kita betul-betul bebas. Tidak ikut memilih di pemilu, kecuali karena sakit atau ada alasan objektif lain, adalah sikap memalukan. Tidak mempunyai waktu atau perhatian atau selera untuk ikut prosedur pemilihan umum adalah memalukan. Sudah diberi kesempatan, sudah mampu untuk menyatakan apa yang dikehendaki, tetapi tidak melalukannya, karena malas, atau karena pesimis, atau karena emosi, itu bukan pilihan yang etis. Kalau kita cuek terhadap mekanisme demokrasi, kita jangan heran kalau akan mendapat penguasa yang tidak menyenangkan.

Sebagai warga sebuah demokrasi kita wajib ikut memilih. Kita mesti merasa bangga bahwa sekali setiap lima tahun harus menentukan waktu untuk ikut menentukan masa depan bangsa untuk lima tahun mendatang. Wajar kalau beberapa jam “hilang”, wajar kalau kita harus sedikit jalan kaki, wajib kalau ada sedikit kerepotan.

Tetapi barangkali semua partai dan semua kandidat presiden jelek. Barangkali iya. Tetapi kita jangan lupa. Dalam demokrasi kita tidak memilih yang terbaik, melainkan yang buruk, tetapi kurang buruk daripada yang lain-lain. Tidak memakai hak memilih adalah sama dengan memberi suara kita kepada mereka yang pasti tidak kita kehendaki.

Saya sendiri biasanya memilih menurut model eliminasi atau penyingkiran. Dari sekian partai yang dapat saya pilih, begitu pula dari para calon gupernur, presiden dan wakil presiden, dan sebagainya. saya singkirkan dulu partai atau orang yang pasti tidak saya inginkan, jadi yang bagi saya paling buruk atau paling berbahaya. Terhadap sisanya saya memakai cara yang sama. Akhirnya barangkali tinggal dua. Ya saya akan pilih yang tidak seburuk daripada yang satunya.

Integritas saya sebagai demokrat saya jaga dengan tidak mau dibeli dan dengan ikut aktif memberikan suara saya dalam pemilihan-pemilihan. Namun jelas juga: rakyat akan menjadi bosan dengan demokrasi kalau korupsi di DPR, di sistem yudisial berjalan terus. Mereka akan bertanya buat apa bajingan-bajingan korup, maling-maling berkantoran di Senayan, para pencuri uang rakyat itu harus saya bayar, saya hormati, saya percayai.

Pemilihan juga merupakan seruan kepada kelas politik. Mereka mesti malu kalau terus KPK masih menemukan lagi-lagi kasus penyuapan, kasus-kasus cari duit – padahal honor mereka adalah amat bagus. Kita dapat dan harus menuntut dari mereka bahwa mereka mengikat diri tidak untuk tidak melakukan korupsi dan untuk melaksanakan kewajiban mereka.

Integritas. Apakah bangsa Indonesia, baik rakyat maupun kelas politik, akan menjaganya di tahun 2009 yang begitu penting?[]

  • Twitter
  • Facebook
  • Yahoo Mail
  • Share/Bookmark

No Comments

Category Opini / Tags: /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Google, Twitter, Yahoo, reddit, Blogmarks, Ma.gnolia.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

No Responses to “ Pemilu dan Integritas Saya ”

By submitting a comment here you grant Lukisan Murah a perpetual license to reproduce your words and name/web site in attribution. Inappropriate comments will be removed at admin's discretion.

Top of page