Siapakah Seorang yang Non Nasionalis itu?
Oktober 14, 2009 at 4:54 PM , by De Andiwinata

Dengan menuliskan judul seperti itu, tentu di dalam hati telah timbul pemaknaan mengenai pertentangan Non Nasionalis dengan nasionalis, karena kecenderungan orang pada abad ini berpikir bahwa untuk mengenali diri kita maka kita harus belajar dari pertentangan yang ada diluar kita, misalnya ketika kita berpandangan sosialisme, maka kita justru lebih mementingkan mempelajari ajaran lain yang merupakan lawan sosialisme, yaitu individualisme, kapitalisme dan sebagainya, dengan alasan untuk mengetahui kelemahan kita, maka kita harus membuat sintesis antara kelemahan lawan dan kelebihan kita, padahal kita (mungkin) belum tau apa kelebihan sosialisme itu secara gamblang, maka dari landasan itu agar tidak merubah generalisasi pola pemikiran yang menganut ajaran pertentangan tersebut, maka untuk memahami nasionalisme, dalam tulisan ini saya ikut melakukan pembahasan secara a contrario dengan membahas siapa non nasionalis itu, sehingga Kita bisa belajar dan memiliki interpretasi sendiri tentang nasionalisme, serta agar tidak menimbulkan dugaan telah terjadi paksaan secara dogmatis-sistematis-subyektif tentang esensi siapa itu seorang nasionalis.
Dalam permulaan tulisan ini saya sebagai orang yang yakin bahwa Anda adalah seorang nasionalis berani menyatakan bahwa orang non-nasionalis adalah orang yang merasa dituntut untuk berbuat sesuatu untuk negaranya. Bukan untuknya, bukan untuk orang yang dicintainya, tetapi untuk negaranya yang masih Ia sangsikan mengapa itu harus. Karakteristik seorang yang non nasionalis adalah selalu bertanya tentang “mengapa aku harus mengabdi terhadap negara?”. Meskipun Ia sadar persis negara adalah bagian dari identitasnya, namun tetap saja negara baginya adalah sesuatu yang absurd yang tidak mendamaikannya ketika patah hati, yang tidak membuatnya tertawa dengan gurauan-gurauan layaknya tontonan komedi serial, dan yang tidak mencukupi apa yang ia butuhkan sebagai individu.
Non Nasionalis selalu menimbang apa yang dikeluarkan terhadap negaranya tergantung pada kepentingan apa yang hendak ia capai dari pengorbanan yang ia berikan, kalau bisa di andai-andaikan, maka oleh orang yang berkarakter non nasionalis, negara bisa diandaikan sebagai seorang perempuan. Jika tulisan ini mulai membuat diri anda menilai-nilai apakah anda seorang nasionalis atau non nasionalis, maka nilailah diri Anda jika Anda di depertemukan pada keadaan pengandaian diatas yang menganggap negara adalah sesosok perempuan, maka Jika anda bertemu seorang perempuan tersebut di suatu pasar tradisional yang terkenal kotor, bau dan becek dengan barang bawaannya yang penuh untuk pertama kalinya, dan perempuan itu memang tidak menarik perhatian. Perempuan tersebut tak bicara pada Anda, tak melucu untuk sekedar membuat Anda tertawa kecil, dan tidak menawarkan minuman kaleng yang anda cari-cari saat itu, kemudian perempuan itu memandangi Anda dan melihat Anda menelan ludah tanda kehausan. Apa yang akan Anda lakukan untuk perempuan ini? Apakah Anda akan menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaannya? Apakah Anda memiliki kemauan keras untuk berbuat banyak untuk perempuan ini? Jika Anda merasa non-nasionalis, maka Anda akan mulai berpikir, ”heh….Sebuah senyuman saja sudah cukup untuknya.”
Orang non nasionalis lebih merasa mudah menjalankan semua tuntutan agama dan kepercayaannya dibandingkan dengan menjalankan tuntutan untuk mencintai negaranya. Sudah barang tentu mekanisme individualisme maupun golongan lebih mengarahkan pola pikirnya untuk selalu bersandar pada konsep Mutualisme, prinsip dagang “ada uang, ada barang”, memberi dan menerima. Non nasionalis mempertimbangkan kecintaannya pada negara sampai pada titik kausalitas tersebut. Bahkan lebih dari itu, dalam mencintai negara Ia membutuhkan sebuah alasan yang rasional berdasarkan kadar untung-rugi. ia tidak pernah memiliki alasan yang tepat untuk mencintai negaranya dengan sepenuh hati. Ia hanya memandang sesuatu berdasarkan alasan yang logis, tentang kenapa Ia harus rela berkorban bagi nusa- negaranya. Non nasionalis tidak mau menerima begitu saja kenapa Ia harus berkorban jikalau alasannya hanya karena negara adalah bagian dari identitasnya. Ia adalah sang pencari alasan yang kuat sesuai syarat yang ia miliki di dalam pandangan hidupnya. Alasan yang Ia inginkan adalah alasan seperti kenapa Ia suka pada sepotong roti yang bertabur coklat. Baginya tanpa alasan kuat dan logis seperti itu, Ia dan negara bagaikan air dan daun Talas. Tanpa alasan itu, sebagai manusia ia adalah tetap sebagai orang yang selalu skeptis, sehingga pahamlah pula jika tidak tertutup kemungkinan suatu saat ia akan berpaling ke sesuatu yang dianggapnya lebih riil, sesuatu yang lebih logis, sesuatu hal yang menawarkan harapan seperti prinsip-prinsip yang ia anut, sesuatu yang akan memicunya meraih gelar penghianat negara.
Bila diselami lebih jauh sampai ke hal yang terpraktis. Maka Non nasionalis adalah semata seorang yang selalu membutuhkan alasan, esensi hidupnya bukan murni untuk memberi pada seseorang, tapi Ia membutuhkan pengertian dari keadaan itu sebagai alasan yang tepat untuk Ia memberi. Non Nasionalis adalah seorang Pencari alasan yang subyektif, Ia susah untuk menyatakan sifat obyektifitasnya dalam segala hal yang berada diluar apa yang Ia anggap logis. Selama ia tidak mengenal manusia-manusia di lingkungan negaranya dengan segudang pluralitas ide-ide kebudayaan dalam negaranya yang berbeda dengan prinsip hidupnya atau golongannya, ia tak akan memulai langkahnya untuk mencintai negara. ( De . . )





No Responses to “ Siapakah Seorang yang Non Nasionalis itu? ”